Senin, 30 April 2012

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL

| Senin, 30 April 2012 | 0 komentar

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL

A.PENGERTIAN IDEOLOGI

1.Arti Ideologi

Ideologi adalah gabungan dari dua kata majemuk idea dan logos, yang berasal dari bahasa Yunani eidos dan logos. Secara sederhana ideologi berarti suatu gagasan yang berdasrakan pemikiran yang sedalam-dalamnya dan merupakan filsafat. Dalam arti kata luas istilah ideologi dipergunakan untuk segala kelompok cita-cita, nilai-nilai dasar, dan keyakinan-keyakinan yang mau dijunjung tinggi sebagai pedoman normatif. Dalam artian ini ideologi disebut terbuka. Dalam arti sempit ideologi adalah gagasan atau teori yang menyeluruh tentang
makna hidup dan nilai-nilai yang mau menentukan dengan mutlak bagaimana manusia harus hidup dan bertindak. Dalam artian ini disebut juga ideologi tertutup. Kata ideologi sering juga dijumpai untuk pengertian memutlakkan gagasan terttentu, tetapi menyembunyikan kepentingan kekuasaan tertentu yang bertentangan denagan teorinya. Dalam hal ini ideologi disosialisasikan kepada hal yang bersifat negatif.
Ideologi juga diartikan sebagai ajaran, doktrin, teori, atau ilmu yang diyakini kebenarannya, yang disusun secara sistematis dan diberi petunjuk pelaksanaannya dalam menanggapi dan menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara(Bahan Penataran BP-7 Pusat, 1993). Suatu pandangan hidup akan meningkat menjadi suatu falsafah hidup, apabila mendapat landasan berpikir maupun motivasi yang lebih jelas, sedangkan kristalisasinya kemudian membentuk suatu ideolagi. Keterikatan ideologi dengan pandangan hidup akan membedakan ideologi suatu bangsa denagan bangsa lain.
Dalam praktek orang menganut dan mempertahankan ideolgi karena memandang iedeologi itu sebagai cita-cita, ideologi merumuskan cita-cita hidup. Oleh sebab itu, menurut Gunawan Setiardja (1993) ideologi dapat dirumuskan sebagai seperangkat ide asasi tentang manusia dan seluruh realitas, yang dijadikan pedoman dan cita-cita hidup.
Ideologi berada satu tingkat lebih rendah dari filsafat. Berbeda dengan filsafat, yang digerakkan oleh kecintaan kepada keebenaran dan sering tanpa pamrih apaun juga, maka ideology digerakkan oleh tekad untuk mengubah keadaan yang tidak diinginkan, menuju ke arah keadaan yang diinginkan. Dalam ideologi sudah asas komitmen, sudah terkandung wawasan masa depan yang dikehendaki dan hendak diwujudkan dalam kenyataaan.
Jika filsafat merupakan kegemaran sebagian kecil orang saja, karena memang tidak semua orang mempunyai kecenderungan pribadi mencari kebenaran tertinggi itu, maka ideolgi diminatioleh lebih banyak manusia. Menurut Edward Shils (lihat BP-7 Pusat, 1991: 382-384), salah seoarang pakar mengenai ideologi, jika manusia sudah mencapai taraf perkembangan intelektual tertentu, maka kecenderungan menyusun ideologi ini merupakan semakin cerdas dan semakin terdidik sebagai warga masyarakat, semakin meningkat kebutuhannya akan wawasan ideologi. Oleh karena itu, ideologi merupakan wawsan yang hendak diwujudkan, maka ideologi selalu berkonotasi politik. Ideology hampir selalu bersumber dari nilai-nilai filsafat dunia nyata yang hendak diubah. Politik, yang bisa juga dyterjemahkan sebagai kebijakan, menyangkut asas serta dasar bagaimana mewujudkan ideologi itu ke dalam kenyataan, khususnya dengan membangun kekuatan yang diperlukan serta untuk untuk mempergunakan kekuatan itu untuk mencapai tujuan.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
© Copyright 2012. Makalah Cyber . All rights reserved | Makalah Cyber.blogspot.com is proudly powered by Blogger.com | Template by Makalah Cyber - Zoenk