Jumat, 13 Juli 2012

Makalah Ke – PGRI – An

| Jumat, 13 Juli 2012 | 0 komentar

BAB I
Pendahuluan
Fitrah manusia berkumpul dalam suatu himpunan baik himpunan kecil ( social Biologis) maupun himpunan besar ( masyarakat dunia). Yang mampu untuk berserikat atau berorganisasi. Organisasi dengan bermacam jenis, motif, bentuk mampunyai satu tujuan umum yang sama yaitu, pengabdian kepada kepentingan umum dan pengabdian kepada kehidupan manusia.
Guru sebagai salah salah satu jenis profesi merupakan suatu bentuk organisasi yang eksistensinya sudah berada dan diakui sejak waktu yang lama. Dan tidak terlepas dari kehidupan perkembangan organisasi dan bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi
masyarakat yang bersangkutan. Sebelum perang dunia ke-2 Indonesia berada dalam kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Pada waktu itu bermacam organisasi guru didirikan tetapi kehidupan organisasi guru pada waktu itu diwarnai oleh pengaruh dari pemerintah kolonial dan kondisi masyarakat waktu itu.
Kesadaran akan persatuan  dan kesadaran korp profesi guru sudah lahir sebelum perang. Guru – guru mendirikan sekolah swasta meskipun tidak dilindungi pemerintah Belanda ( Wildern School). Baru tangal 25 november  1945 persatuan guru republik Indonesia ( PGRI) lahir digedung sana harsana – pasar pon Surakarta. Yang lahir tepat setelah 100 hari Indonesia merdeka.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.  Sejarah lahirnya PGRI
Di indonesia praktis tidak ada satupun organisasi masyarakat yang tampil kecuali  organisasi bentukan jepang. Dijakarta pernah ada satu bentuk perserikatan guru dengan nama “guru” dipimpin oleh saudara Amin Singgih, didampingi beberapa orang kepala sekolah yaitu saudara Adam, Bachtiar, Soebroto, Ny. Wawu Runtu dll. Tetapi tidak terbentk organisasi yang jelas. Guru – guru dan aktivis organisasi dilingkungan keguruan banyak mengambil kesempatan bergerak sebagai pimpinan organisasi bentukan jepang misalnya; PETA, KEIBODAN, SEINENDAN dll. Pada waktu proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, Pemerintah Militer Jepang masih berkuasa di seluruh wilayah Indonesia, walaupun pemerintah pusatnya sudah menyerah kalah pada sekutu. Terjadilah perebutan kekuasaan antara pemerintah militer Jepang yang masih mau mempertahankan kekuasaannya yang sudah goyah dengan Pemerintah Republik Indonesia yang baru saja memproklamirkan kemerdekaannya. Perebutan kekuasaan tersebut ada yang berlangsung melalui pertempuran, ada yang melalui perundingan. Dalam beberapa waktu berhasil diselesaikan penyerahan kekuasaan pemerintah militer Jepang kepada Pemerintah Republik Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia belum sempat mengadakan konsolidasi, tiba-tiba datang mendarat bersama-sama tentara sekutu, tentara Pemerintah Hindia Belanda dalam jumlah yang besar dengan senjata lengkap serba modern. Pemerintah Hindia Belanda bermaksud mengambil alih pemerintahan dan menguasai kembali Indonesia seperti pada waktu sebelumnya. Terjadilah perang kemerdekaan Indonesia melawan Pemerintah Hindia Belanda yang dibantu tentara Sekutu. Walaupun persenjataan tentara Hindia Belanda serba lengkap dan modern baik di darat, laut, maupun udara, tetapi ternyata mereka tidak dapat maju dengan cepat, bahkan terpaksa berhenti tidak mampu menembus lebih jauh garis pertahanan tentara kita yang bersenjata serba sederhana.
Menghadapi kenyataan pahit itu, terpaksa Pemerintah Hindia Belanda mengadakan perundingan dan mengakui secara de facto Pemerintah Republik Indonesia, dan kemudian diadakan gencatan senjata antara kedua belah pihak. Perundingan menghasilkan persetujuan yang mengikat kedua belah pihak untuk menghormati dan melaksanakan keputusan bersama. Dalam persetujuan tersebut ditetapkan garis kedudukan pasukan masing-masing yang dikenal dengan garis demarkasi, sehingga terjadilah status quo. Walaupun persetujuan telah ditandatangani oleh kedua belah pihak, pelanggaran tetap saja terjadi.
Dalam keadaan yang terancam itu, Pemerintah Republik Indonesia masih harus mampu mengatasi gejolak golongan masyarakat tertentu yang tidak dapat mengendalikan diri, memperjuangkan dan memaksakan aspirasi golongannya kepada Pemerintah. Bentrokan-bentrokan tidak dapat dihindari lagi dan berakibat melemahkan kedudukan Pemerintah kita. Meskipun demikian, instansi pemerintah dengan sekolah-sekolah, toko,  pasar, dan lembaga masyarakat tetap terus berjalan. Kegiatan instansi dan lembaga tersebut memang sangat terbatas karena sumber daya dan dana yang minim. Demikian pula keadaan pendidikan dan sekolah-sekolah.
Sementara itu, sisa-sisa sikap mental zaman penjajahan Pemerintah Hindia Belanda dan Pemerintah Militer Jepang memberi bekas yang dalam di lingkungan pendidikan yang memerlukan waktu lama untuk menghapusnya. Pada jaman penjajahan, pemerintah Belanda menerapkan politik devide et impera, yang secara umum menjadikan kita terpecah-pecah kemudian dikuasi. Cara tersebut dilakukan di segala bidang. Hal-hal yang berbeda walaupun kecil mengenai sifat, tabiat, bahasa, agama, dan adat istiadat masyarakat Indonesia selalu dibesar-besarkan kemudian dihasut, diadu domba antara golongan satu dengan yang lain. Dengan demikian di antara bangsa Indonesia tidak ada rasa kesatuan, persatuan, dan kesamaan nasib, justru tertanam rasa benci, curiga, dan permusuhan satu dengan yang lain.
Dalam kondisi dan situasi yang demikian itu, di Kota Solo, di aula Sekolah Guru Putri (SGP) yang terletak di Jalan kartini berlangsung Kongres Guru Pertama Saat memuncaknya revolusi dalam kongres guru Indonesia di Surakarta tanggal 25 November 1945 yang melahirkan organisasi profesi, organisasi perjuangan dan serikat pekerja yang bernama “Persatuan Guru Republik Indonesia” (PGRI) yang nasionalis dan unitaristik lahir digedung Sana Harsana – Pasar Pon Surakarta. Dengan lahirnya PGRI di awal kemerdekaan yang diwarnai dengan ledakan bom dan mesiu perang kemerdekaan, maka hapus sudah organisasi kelompok-kelompok guru yang berlainan aspirasi perjuangannya. Semua guru bersatu, berjuang di bawah panji PGRI. menjadi organisasi yang besar, kuat, dan berwibawa.
2.2.  Susunan Pengurus Besar PGRI
PGRI berdiri bermodal tekad semangat perjuangan. Bapak Amin Singgih, Ketua PGRI, segera melengkapi susunan Pengurus Besar yang ditetapkan pada rapat pertama yang diselenggarakan di salah satu ruangan kantor Mangkunegaran. Bapak Amin Singgih menjabat Kepala Pendidikan Mangunegaran atau disebut Pembesasr Baroyowiyoto. Maka susunan Pengurus Besar PGRI adalah sebagai berikut:
a.    Ketua I              : Amin Singgih
b.    Ketua II             : Rh. Kusnan
c.    Ketua III           : Soemitro
d.    Penulis I            : Djajeng Sugianto
e.    Penulis II           : Ali Marsaban
f.     Bendahara I      : Sumadi Adisasmito
g.    Bendahara II     : Martosudigdo
h.    Anggota            : Siti Wahyunah
i.     Anggota            : Siswowidjojo
j.     Anggota            : Siswowardojo
k.    Anggota            : Parmodjo
Dua bulan kemudian Bapak Amin Singgih diangkat menjadi Bupati Mangkunegaran, sehingga karena kesibukannya terpaksa mengundurkan diri sebagai Ketua PGRI. Pimpinan PGRI diserahkan kepada Bapak Rh Kusnan yang menjabat Ketua II. Kembali SGP memegang peranan dalam keberadaan PGRI, karena sejak Bapak Rh Kusnan menjadi Ketua PGRI maka Kantor Pengurus Besar PGRI berada di kampus SGP yang sementara itu sudah pindah di Jalan Monginsidi, Margoyudan. Susunan Pengurus Besar berubah menjadi sebagai berikut:
a.    Ketua I              : Rh. Kusnan
b.    Penulis I            : Sastrosumarto
c.    Penulis II           : Kadjat Martosubroto
d.    Bendahara I      : Sumidi Adisasmito
e.    Bendahara II     : Martosudigdo
f.     Anggauta          : Djajengsugianto
g.    Anggauta           : Siswowardojo
h.    Anggauta           : Ny. Nurhalmi
i.     Anggauta           : Suspanji Atmowirogo
j.    Anggauta            : Baroja
2.3.  Asas – Asas PGRI
Dalam menjalankan tugasnya setelah dibentuk secara resmi tentunya PGRI memiliki Asas – asas diantaranya sebagai berikut :
  • Pancasila dan UUD 1945
PGRI adalah organisasi yang mengutamakan prinsip kejuangan yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945
  • Unitaristik
PGRI tidak membedakan anggota berdasarkan pada agama, ras, suku, latar belakang pendidikan, tempat, pengabdian, jenis kelamin, dan keadaan sosial ekonomi serta budaya
  • Independen
PGRI merupakan organisasi profesi yang mandiri dengan prinsip menjamin kerjasama atas dasar kemitrasejajaran dengan pihak manapun, saling menghormati, berdiri diatas semua golongan, dan menumbuhkan etos kerja untuk diabdikan bagi kepentingan anggota, bangsa dan Negara serta kemanusiaan
  • Professional
PGRI merupakan organisai profesi, ketenagakerjaan dan perjuangan yang menjunjung tinggi profesionalitas, obyektifitas dan berorientasi kepada peningkatan mutu secara berkelanjuatan bagi organisasi dan anggotanya.
  • Non partai polotik
PGRI bukan organisasi politik dan bukan merupakan bagian dari partai politik manapun. PGRI memberikan kebebasn kepada anggotanya dalam menyalurkan aspirasinya tanpa meninggalkan asas dan jatidiri PGRI.
  • Perjuangan
PGRI sebagai organisasi perjuangan pengemban amanat Pancasila dan UUD 1945, cita-cita prokamasi yang dilandasi semangat dan nilai-nilai 1945 dengan penuh rasa tanggungjawab menegakkan dan melaksanakan secara aktif dan perwujudan cita-cita bangsa Indonesia.
  • Kebermanfaatan
PGRI adalah organisasi yang harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi organisasi , anggota, masyarakat, dan Negara dengan tidak merugikan dan mengganggu hak serta kepentingan pihak lain.
  • Kebersamaan dan Kekeluargaan
PGRI adalah organisasi yang menumbuhkan sikap saling meghargai, memahami, menghormati, tenggangn rasa, asah asih asuh dan konsekuen dalam menegakkan kebenaran dan keluhuran moral.
  • Kesetiakawanan Sosial
PGRI adalah organisasi yang menumbuhkan empati, simpati, kepekaan dan solidaritas sosial terhadap anggota dan masyarakat.
  • Keterbukaan
PGRI adalah organisasi yang menumbuhkan sikap terbuka, rasa memiliki, mawas diri, partisipasi, tanggung jawab, kepercayaan, menghindarkan kecurigaan, dan meningkatkan kepedulian diantara sesama anggota dan pengurus.
  • Keterpaduan dan kemitraan
PGRI adalah organisasi yang mengembangkan sikap kemitraan yang saling menguntungkan, saling membantu dan bekerjasama dengan sesama pemangku kepentingan ( stakeholders )
  • Demokrasi
PGRI adalah organisasi yang menghargai nilai-nilai luhur Pancasila, Nilai-nilai universal, kemanusiaan, keadilan, kebenaran, dan perbedaan pendapat.
2.4.  Tujuan & fungsi Dibentuknya PGRI
Dalam terbentuknya suatu Organisasi pastinya mempunyai tujuan – tujuan tertentu dan fungsi untuk menopang dan menjalankan program – programnya yaitu antara lain ;
1.         Memberikan perlindungan
2.         Membela hak dan kewajiban
3.         Meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi pekerja dan keluarganya
4.         Sebagai pihak yang membuat PKB ( perjanjian kerja bersama) dan penyelesaian perselisihan ( Industrial)
5.         Wakil pekerja dalam lembaga ketenagakerjaan, sesuai tingkatannya.
6.         Sarana menciptakan hubungan ( industrial ) yang harmonis, dinamis dan berkeadailan sesuai peraturan
7.         Sarana penyaluran aspirasi  dalam memperjuangkan hak dan kepentingan anggota.
8.         Perencana, pelaksana, penanggung jawab gerakan pekerja ( audensi, unjuk rasa, pemogokan) sesuai dengan aturan yang berlaku.
9.         Wakil pekerja dalam memperjuangkan kepemilikan saham dalam perusahaan.
2.5.  Visi dan Misi PGRI
Dalam perjalanan hidup sejenak kelahirannya setengah abad yang lalu, itu telah membuktikannya sebagai organisasi yang masih lestari hingga kini dan tentunya untuk masa – masa yang akan datang. Dalam menghadapi tantang era globalisasi memasuki dan pada abad ke – 21 PGRI harus tetap konsisten terhadapa komitmen jati diri yang bersumber pada visi masa depannya.
Visi PGRI yaitu “ untuk mewujudkan PGRI sebagai organisasi dinamis, mandiri dan berwibawa yang dicintai oleh anggotanya, disegani oleh mitranya dan diakui keberadaanya  oleh masyarakat luas”.
Dengan visi ini maka PGRI mengemban sejumlah misi yang harus diwujudkan yaitu :
1.         Misi nasional
Misi untuk mempertahankan mengisi dan mewujudkan cita – cita proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945 berupa terwujudnya masyarakat adil dan makmur
2.         Misi pembangunan nasional
Ikut berperan serta untuk mensukseskan pembangunan nasional sebagai bagian pengisian kemerdekaan
3.         Misi pendidikan nasional
Ikut berperan serta dan aktif secara mendalam untuk mensukseskan pendidikan nasional sebagai bagian dari pembangunan nasional khususnya dalam upaya mengembangkan sumber daya alam.
4.         Misi professional
Misi untuk memperjuangkan perwujudan guru professional dengan hak dan martabatnya srta pengembangan karirnya.
5.         Misi kesejahteraan
Memperjuangkan tercapainya kesejahteraan lahir dan batin  para guru dan tenaga kependidikannya.
                   
BAB III
PENUTUP
3.1.  KESIMPULAN
Pada tahun 1912 telah berdiri PGHB (persatuan Guru hindia belanda). Sejalan dengan keadaan itu maka disamping PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan yang lainnya.
Lalu pada jaman pendudukan jepang di Indonesia, praktis tidak ada satu pun organisasi masyarakat yang tampil kecuali organisasi bentukan Jepang. Segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas. Pada tanggal 25 – 25 November 1945 dibukalah Kongres PGRI ke-1 di Surakarta. Tepanya di Gedung somaharsana (pasar pon), van deventer school (sekarang SMP negri 3 Surakarta). Pada konngres itu disepakati berdirinya PGRI sebagai wahana persatuan dan kesatuan segenap guru di seluruh Indonesia.
Perjuangan organisasi PGRI pada periode 1945-1950 menitik beratkan pada perjuangan menegakkan dan menyelamatkan kemerdekaan sebagaimana kondisi umumnya Usaha pengisian pendidikan mulai dilaksanakan dengan bernafaskan peralihan dari pendidikan yang bersifat kolonial ke pendidikan nasional.
3.2. SARAN
§  PGRI lahir dengan semangat kemerdekaan yang kuat. Semoga hal itu bisa menjadi pondasi yang kukuh dalam mempertahankan semangat proklamasi sehingga dapat membrikan pengajaran yang terbaik.
§  Sebaiknya profesi guru harus dijunjung tinggi karena telah banyak pengorbanan-pengorbanan yang terjadi.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
© Copyright 2012. Makalah Cyber . All rights reserved | Makalah Cyber.blogspot.com is proudly powered by Blogger.com | Template by Makalah Cyber - Zoenk