Sabtu, 21 Juli 2012

MAKALAH "PEMBENTUKAN SPIRITUALITAS PADA ANAK USIA DINI MELALUI PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA"

| Sabtu, 21 Juli 2012 | 1 komentar

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Alasan Pemilihan Judul
Anak adalah amanah Allah swt, yang diberikan kepada orangtua, masyarakat dan bangsa. Nasib dan masa depan bangsa di kemudian hari, ditentukan oleh kondisi anak bangsa hari ini. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk menyiapkan generasi penerus bangsa yang berkualitas, yaitu generasi yang kuat imannya, mantap ilmunya, baik amalnya, dan mulia akhlaknya.

Pendidikan Agama yang sumbernya pada nilai-nilai Qur’an semakin terasa diperlukan oleh anak-anak, untuk mempersiapkan masa depannya yang lebih maju, kompleks, canggih dan penuh tantangan. Hal ini disebabkan kecenderungan masa depan yang kompleks dalam memecahkan masalah yang cenderung secara rasional yang berdampak pada pengabaian nilai-nilai moral demi    kemanfaatan    sesaat.
Pendidikan anak perlu bermuara terhadap pengagungan nama Allah SWT, sehingga pendidikan apapun yang diterima menjadi penopang ketauhidannya. Al Qur’an sebagai petunjuk hidup umat islam, telah menginformasikan seperti dalam surat Shad ayat 29 "ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan atay-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang    mempunyai    pikiran".
Menanamkan etos Islam dapat diupayakan jika lingkungan anak juga Islami. Dalam suasana demikian, transfer nilai dapat berjalan dengan mulus, karena orang tua dapat menjalankan fungsinya sebagai agen masyarakat. Upaya menanamkan etos Islam lebih berhasil jika dimulai sejak dini.

B.    Latar Belakang Penelitian
Pendidikan anak harus dimulai sejak dini. Hal ini dikarenakan pada usia dinilah kemampuan belajar anak cukup tinggi. Usia 3-5 tahun termasuk masa yang amat menentukan perkembangan kepribadian anak. Pada usia balita anak masih banyak bertindak daripada berfikir, menjajagi, mencari tahu, menciptakan, dan sebagainya. Pada usia awal anak, pendidikan tingkah laku lebih penting dibanding ilmu. Islam mengajarkan ibu untuk menyusui anaknya selama 2 tahun, disitulah penanaman nilai-nilai baik. Dari segi ilmu kedokteran, usia 0-12 tahun adalah saat penting dalam perkembangan    otak anak.
Menurut Benyamin Spock, usia 0-12 tahun merupakan masa emas anak untuk dirangsang intelektual dan kreativitasnya, karena 80% perkembangan anak ditentukan pada usia tersebut. Penelitian mutakhir tentang otak, anak-anak cenderung berkembang lebih positif bila otaknya (kiri dan kanan) intensif dirangsang. Dari uraian tersebut bisa disimpulkan, niali-nilai agama selayaknya diperkenalkan sejak usia bayi dan dengan intensitas yang tinggi sampai dengan usia 12 tahun.

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia.

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penulisan ini ialah penyusun dan pembaca dapat mengetahui pengertian pendidikan agama, klasifikasi pendidikan agama, hal-hal yang harus dilakukan orang tua dalam mengenalkan pendidikan agama pada anak, serta manfaat atau pentingnya pengenalan pendidikan agama pada anak sejak usia dini.



BAB II
ISI

A.    PENDIDIKAN ANAK DIMULAI SEJAK USIA DINI
Sejak dalam rahim ibu pendidikan pada anak secara tidak langsung sudah bisa dijalankan. Dalam tiga bulan pertama kehidupan anak, kata psikolog Ieda Peornomo Sigit Sidi, rangsangan yang diterima oleh anak sangat besar pengaruhnya pada perkembangan berikutnya. Untuk itu orang tua terutama ibu sebaiknya mengaktifkan komunikasi dengan anak sejak dalam rahim. Sejak memasuki bulan keenam dan ketujuh masa kehamilan, bayi mulai mendengar tegur sapa kedua orang tuanya. Bayi sudah mulai bisa mendengar suara-suara, seperti detak jantung ibu, suara dari usus, paru-paru dan sebagainya. Semua itu dirasakan atau didengarkan melalui getaran pada ketuban yang ada di dalam rahim. Kemampuan inilah yang membuat bayi menjadi tenang ketika ibunya menepuk-nepuk perutnya sambil membisik-bisikan kata-kata manis. Dan kemampuan inilah yang menggoreskan memori di otak anak. Karena itu sebaiknya orang tua membiasakan bayinya mendengar suara-suara yang enak (baik) seperti alunan ayat-ayat Al-Qur'an, atau kata-kata yang lembut dari ibunya.
Pada umumnya agama seseorang dtentukan oleh pendidikan pengalaman dan latihan-latihan yang dilaluinya pada masa kecilnya dahulu. Seseorang yang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapatkan pendidikan agama, maka pada dewasanyananti, ia tidak akan merasakanpentingnya agama dalam hidupnya. Lain halnya dengan orang yang diwaktu kecilnya mempunyai pengalaman-pengalaman agama misalnya ibu bapaknya orang yang mengenal agama, lingkungan social dan kawan-kawannya juga hidup menjalankan agama, ditambah pula dengan pendidikan agama secara disengaja di rumah, sekolah dan masyarakat. Maka anak-anak itu akan dengan sendiriya mempunyai kecenderungan kepada hidup dalam aturan-aturan agama, terbiasa menjalankan ibadah, takut melangkahi larangan-larangan agama dan dapat merasakan nikmatnya hidup beragama.
B.    TUJUAN PENDIDIKAN ANAK
Anak wajib dididik agar kelak menjadi anak yang shalih atau shalihah. Inilah harapan tertinggi orang tua untuk anaknya yang terekam dalam al-Qur'an, yang merupakan do'a Nabi Zakaria (Ali Imran 38). Anak yang shalih adalah anak yang memiliki kepribadian Islam. Dengan dasar aqidah yang kuat, kepribadian Islam anak akan tercermin dariperilakunya dan cara berfikirnya. Perilakunya didasarkan pada aturan Islam sebagai tolok ukur perbuatannya (miqyasu al-'amal). Dan ajaran Islam dijadikannya sebagai landasan ia berfikir (qoidah fikriyah). Beberapa ciri anak yang shaleh tergambar dalam beberapa ayat dari surah Luqmah (13 - 19). Diantaranya beraqidah lurus (tidak musyrik), birru al-walidayn, taat beribadah, mau berdakwah dan berakhlaq mulia.
Oleh karena itu, pendidikan anak harus dapat menanamkan aqidah Islam secara benar. Juga pemahaman terhadap semua aspek ajaran Islam, baik itu menyangkut masalah ibadah, akhlaq, makanan, minuman, pakaian, juga masalah dakwah dan muamalah.Dengan keshalihannya itulah ia akan dapat menjalani kehidupan di dunia ini dengan cara yang Islami. Bila ia kelak menjadi orang yang cantik atau gagah, pandai, kaya dan memiliki jabatan yang tinggi, maka keshalihan itu akan membimbingnya sedemikian, sehingga semua karunia Allah itu makin meningkatkan keIslaman dia, bukan sebaliknya. Begitu juga bila ia, misalnya kelak hidup dalam kekurangan, berparas kurang bagus, akalnya sedikit lemah, keshalihannya juga akan menjaga dirinya. Ia tidak kemudian frustasi atau bahkan mengakhiri hidupnya sendiri. Tegasnya, keshalihan itulah yang mampu menjamin anak hidup secara benar sesuai ajaran Islam.

C.    PENDIDIKAN AGAMA PADA ANAK
Makna agama sendiri bukanlah sekedar tindakan-tindakan ritual seperti sholat dan membaca do'a saja. Akan tetapi agama lebih dari itu, yaitu agama mengatur keseluruhan tingkah laku manusia demi memperoleh ridla Allah. Agama dengan kata lain, agama meliputi keseluruhan tingkah laku manusia dalam hidup ini, yang tingkah laku itu membentuk keutuhan manusia berbudi luhur (berakhlak karimah), atas dasar percaya atau iman kepada Alllah dan bertanggung jawab secara pribadi di Hari Kemudian (Kiamat). Hal tersebut di atas menyatakan bahwa shalat kita, darma bakti kita, hidup kita, mati kita dan semua adalah untuk atau milik Allah seru sekalian alam.
Pendidikan agama sesungguhnya adalah pendidikan untuk pertumbuhan total seorang anak didik. Dan tidak benar jika dibatasi hanya kepada pengertian-pengertiannya konvensional dalam masyarakat. Karena itu peran orang tua dalam mendidik anak melalui pendidikan keagamaan yang benar adalah amat penting. Oleh Karena itu pendidikan agama keagamaan dalam keluarga tidak hanya melibatkan orang tua saja, akan tetapi seluruh keluarga dalam usaha menciptakan suasana keagamaan yang baik dan benar dalam keluarga. Peran orang tua tidak hanya barupa pengajaran, tetapi juga berupa peran tingkah laku, ketauladanan dan pola-pola hubungannya dengan anak yang dijiwai dan disemangati oleh nilai-nilai keagamaan menyeluruh. Seperti pepatah mengatakan bahwa pendidikan dengan bahasa perbuatan (perilaku) untuk anak adalah lebih efektif dan lebih mantap dari pada pendidikan dengan bahasa ucapan. Karena itu yang penting adalah adanya penghayatan kehidupan keagamaan dalam suasana keluarga.
Perkembangan spiritualitas pada anak terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil dalam keluarga, disekolah dan dalam masyarakat lingkungan. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agama atau spiritualitas akan semakin banyak unsur agama, maka sikap, tindakan, kelakuan dan caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran agama.

D.    KLASIFIKASI PENDIDIKAN AGAMA
Dapat dikatakan bahwa pendidikan agama berkisar antara dua dimensi hidup, yaitu :
1)        Penanaman rasa taqwa kepada Allah sebagai dimensi hidup yang dimulai dengan pelaksanaan kewajiban-kewajiban formal agama yang berupa ibadah-ibadah. Sedangkan pelaksanaannya harus disertai dengan penghayatan yang sedalam-dalamnya akan makna ibadah-ibadah tersebut, sehingga ibadah-ibadah itu tidak dikerjakan semata-mata sebagai ritual belaka, melainkan dengan keinsyafan mendalam akan fungsi edukatifnya bagi kita semua.
Rasa taqwa kepada Allah itu kemudian dapat dikembangkan dengan menghayati keagungan dan kebesaran Allah lewat perhatian kepada alam semesta beserta segala isinya, dan kepada lingkungan sekitar. Sebab menurut al-Qur'an hanya mereka yang memahami alam sekitar dan menghayati hikmah dan kebesaran yang terkandung di dalamnya sebagai ciptaan Ilahi yang dapat dengan benar-benar merasakan kehadiran Allah sehingga bertaqwa kepada-Nya. Melalui hasil perhatian, pengamatan, dan penelitian kita terhadap gejala alam dan social kemanusiaan tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan yang bersifat kognitif belaka, juga tidak hanya yang bersifat aplikatif dan penggunaan praktis semata (penggunaan teknologi), tetapi dapat membawa kita kepada keinsyafan Ketuhanan yang mendalam, melalui penghayatan keagungan Tuhan sebagaimana tercermin dalam seluruh ciptaannya.
Keinsyafan merupakan unsur yang sangat penting dalam menumbuhkan rasa taqwa, maka pendidikan keagamaan dalam keluarga harus pula meliputi hal-hal yang diperintahkan Allah dalam al-Qur'an (sesuai dengan ajaran-Nya). Wujud nyata atau substansi jiwa Ketuhanan itu terdapat dalam nilai-nilai keagamaan pribadi yang amat penting yang harus ditanamkan kepada anak-anak. Kegiatan menanamkan nilai-nilai itulah yang sesungguhnya akan menjadi inti pendidikan keagamaan. Diantara nilai-nilai itu yang sangat mendasar adalah:
•    Iman
Sikap batin yang penuh kepercayaan kepada Allah.
•    Islam
Sikap pasrah kepada-Nya dengan menyakini bahwa papun yang datang dari Allah tentunya membawa hikmah kebaikan, yang kita tidak mungkin mengetahui seluruh wujudnya.
•    Ihsan
Kesadaran yang sedalam-dalamnya bahwa Allah senantiasa hadir atau berada bersama kita dimana pun kita berada.
•    Taqwa
Sikap yang sadar penuh bahwa Allah selalu mengawasi kita, kemudian kita berbuat hanya sesuatu yang diridlai Allah dengan menjauhi dan menjaga diri dari sesuatu yang tidak diridlai Allah.
•    Ikhlash
Sikap murni dalam tingkah laku dan perbuatan, semata-mata demi memperoleh ridla Allah dan dan bebas dari pamrih lahir dan batin tersembunyi maupun terbuka.
•    Tawakkal
Sikap senantiasa bersandarkan diri kepada Allah dengan penuh harapan dan dengan keyakinan kita pula bahwa Allah akan menolong kita dalam mencari dan menemukan jalan yang terbaik bagi kita.
•    Syukur
Sikap penuh rasa terima kasih dan penghargaan atas nikmat dan karunia yang tidak terbilang banyaknya yang dianugrahkan Allah kepada kita.
•    Sabar
Sikap tabah mengahadapi segala kepahitan hidup, besar atau kecil, lahir atau batin, karena keyakinan yang tidak tergoyahkan bahwa kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
2)        Dimensi hidup manusia yang lain adalah mengembangkan rasa kemanusian kepada sesama. Keberhasilan pendidikan agama bagi anak-anak tidak cukup diukur hanya dari segi seberapa jauh anak itu menguasai hal-hal yang bersifat kognitif atau pengetahuan tentang ajaran agama (ritual-ritual). Justru yang lebih penting adalah sejauhmana nilai-nilai keagamaan itu dalam jiwa anak-anak diwujudkan dalam tingkah laku dan budi pekerti sehari-hari, sehingga dapat melahirkan budi luhur (akhlakul karimah). Sekedar untuk pegangan operatif dalam menjalankan pendidikan keagamaan kepada anak, mungkin nilai-nilai akhlak berikut ini dapat dipertimbangkan oleh semua orang tua untuk ditanamkan kepada anak-anak, yaitu:
•    Silaturrahmi
Pertalian rasa cinta kasih antara sesama manusia, khususnya antara saudar, kerabat, tetangga dan masyarakat.
•    Persaudaraan
Semangat persaudaraan, lebih-lebih antara sesama kaum beriman Ukhuwah Islamiyah).
•    Persamaan
Pandangan bahwa sesama manusia tanpa memandang jenis kelamin, kebangsaan ataupun kesukuannya adalah sama dalam harkat dan martabat.
•    Adil
Wawasan yang seimbang dalam memandang menilai atau menyikapi sesuatu atau seseorang.
•    Berprasangka baik pada yang lainnya
•    Rendah hati

Sikap yang tumbuh karena keinsafan bahwa segala kemuliaan hanya milik Allah, maka tidak sepantasnya manusia mengklaim kemuliaan itu kecuali dengan pikiran yang baik dengan perbuatan yang baik, yang itupun hanya Allah yang menilainya.
•    Tepat    Janji                                                                                                                           Salah satu sifat orang yang benar-benar beriman adalah sikap selalu menepati janji bila membuat perjanjian.
•    Lapang dada                                                                                                                           Sikap penuh kesediaan menghargai orang lain dengan pendapat-pendapat dan pandangan-pandangan.
•    Dapat    dipercaya                                                                                                                                         Salah satu konsekuensi iman adalah amanah atau penampilan diri yang dapat dipercaya.
•    Perwira
Sikap penuh harga diri namun tidak sombong dan tidak mudah menunjukkan sikap memelas atau iba dengan maksud mengundang belas kasihan orang lain dan mengharapkan pertolongannya.
•    Hemat
Sikap tidak boros dan tidak pula kikir dalam menggunakan harta, melainkan sedang antara keduanya.
•    Dermawan
Sikap kaum beriman yang memiliki kesediaan yang besar untuk menolong sesama manusia terutama mereka yang kurang beruntung dan terbelenggu oleh perbudakan dan kesulitan hidup lainnya dengan mendermakan sebagian harta benda yang dikaruniakan Allah kepada mereka.
Dan masih banyak lagi nilai-nilai keagamaan pribadi yang diajarkan dalam islam. Orang tua atau pendidik dapat mengembangkan nilai-nilai keagamaan lainnya sesuai dengan perkembangan anak dan keadaan.

E.    METODE-METODE DALAM MENGENALKAN PENDIDIKAN AGAMA PADA ANAK
1.    Memberikan Contoh Keteladanan.
Supaya anak bisa membaca Al-Quran orang tua atau keluarga memberikan contoh dengan rutin baca Al-Qur’an. Supaya anak selalu menjaga kebersihan, orang tua atau keluarga membiasakan menaruh dan membuang sampah pada tempatnya. Dan contoh-contoh lainnya

2.    Menerapkan pertahapan dan pembiasaan
Sebagai implikasi dari pandangan Al-Quran tentang proses pertumbuhan dan perkembangan jiwa manusia, Al-Quran dalam petunjuk-petunjuknya menjadikan pentahapan dan pembiasaan sebagai salah satu ciri sekaligus metode guna mencapai sasaran.
Menggunakan alat peraga untuk menyampaikan pendidikan agama, agar menyatu dengan kehidupan sehari-hari, sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
Mengusahakan suatu lingkungan yang kaya akan rangsangan, yaitu dengan menyediakan aneka ragam bahan dan sarana prasarana yang dapat merangsang semua alat indranya: penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dll. Anak belajar mengenal lingkungan melalui indranya (visual, auditorial dan kinestetikal).
3.    Menerapkan Watak Positif
Bisa dilakukan dengan:
a).    Fleksibilitas, kemampuan untuk melihat adanya alternatif-alternatif pemecahan masalah, keterbukaan: Suasana keterbukaan menghasilkan sikap demokrasi dan terbuka.
b). Ketegasan, era globalisasi menghadapkan kita pada banyak pilihan yang menuntut kita untuk bertindak tegas (bukan kasar). Ketegasan perlu dibatasi oleh etika dan prinsip agama.
c). Percaya diri untuk berinisiatif, kompetisi merupakan ciri globalisasi, menuntut kita memiliki percaya untuk berinisiatif, toleransi kepada ketidakpastian yaitu sesuatu selalu berubah dan hanya Allah yang konstan, kemandirian, berencana, disiplin, berani ambil resiko, dll.
4.    Pendidikan    dengan    nasihat
Nasihat merupakan salah satu pilar dalam pendidikan Islam. Rasulullah bersabda: "Agama itu nasihat. Kami bertanya: "Untuk siapa?" Jawab Nabi: "Bagi Allah, dan KitabNya, dan RasulNya, dan pemimpin-pemimpin, serta kaum muslimin pada umumnya". (HR. Muslim).
Sering terjadi, sekalipun orang tua telah mengajarkan hal-hal yang baik, tetapi anak tetap melakukan kesalahan. Selayaknya orang tua harus
menyikapi dengan arif. Nasihat yang baik akan lebih mengena di hati anak dari pada kemarahan disertai caci maki dan pukulan. Dalam memberi nasihatpun harus dilakukan dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang untuk mengasah kepekaan anak. Pendidikan dengan Perhatian
Merupakan kewajiban orang tua untuk mencurahkan perhatian pada anak-
anaknya dengan mengamati perkembangannya dan memberikan kasih sayang. Anak yang senantiasa diperhatikan akan merasa aman, hidup penuh rasa cinta, optimis dan memandang positif pada lingkungannya. Sebaliknya, jika kurang mendapat perhatian atau bahkan terlantar, anak akan tumbuh dalam rasa terabaikan. Ia akan memandang negatif dan acuh tak acuh pada lingkungannya. Jika pada tahap awal anak telah kehilangan tali kasih dengan orang tuanya, maka pada tahap selanjutnya akan sulit menyayangi orang lain.
5.    Pendidikan dengan Memberikan Hukuman dan Penghargaan
Hukuman kadang diperlukan dalam pendidikan. Hukuman merupakan sangsi fisik atau psikis yang hanya boleh diberikan ketika anak melakukan kesalahan dengan sengaja. Rasulullah memerintahkan kepada orang tua memukul anaknya ketika telah berumur 10 tahun masih juga lalai shalat. Tentu saja dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Hukuman yang diberikan haruslah proporsional (sesuai) dengan kesalahan anak. Berat ringannya hukuman disesuaikan dengan besar kecilnya kesalahan, dan disesuaikan pula dengan kemampuan anak melaksanakan hukuman tersebut. Menghukum anak yang memecahkan gelas misalnya, harus berbeda dengan anak yang melailaikan shalat. Artinya, pelanggaran syar'i harus mendapat porsi hukuman khusus (lebih berat misalnya) dibandingkan kesalahan teknis yang tidak terlalu penting. Hikmah dari pendidikan melalui hukuman ini diantaranya adalah untuk melatih disiplin dan mengenalkan anak pada konsep balasan setiap amal perbuatan. Jika anak terlatih sejak kecil untuk berhati-hati dengan larangan dan sungguh-sungguhmelaksanakan kewajiban, maka akan memudahkan baginya untuk berbuat seperti itu ketika ia dewasa. Tampaklah bahwa hukuman pun bermanfaat untuk melatih dan menanamkan rasa tanggung jawab dalam diri anak. Penghargaan diberikan pada anak jika mencapai hasil yang baik. Fungsinya untuk mendidik dan memotivasi anak untuk mengulangi tingkah laku yang baik itu. Penghargaan dapat berupa pujian, bingkisan, pengakuan atau perlakuan istimewa.

F.    PENGENALAN PENDIDIKAN AGAMA PADA ANAK USIA DINI
Manfaat pengenalan pendidikan agama pada anak sejak usia dini cukuplah besar. Hal ini dibuktikan dengan beberapa fakta yang terkait dengan pengenalan pendidikan agama sejak dini mempunyai manfaat yang besar antara lain:
1)    Usia 3-5 tahun termasuk masa yang amat menentukan
perkembangan kepribadian anak. Pada usia balita anak masih banyak bertindak daripada berfikir, menjajagi, mencari tahu, menciptakan, dan sebagainya. Pada usia awal anak, pendidikan tingkah laku lebih penting dibanding ilmu. Islam mengajarkan ibu untuk menyusui anaknya selama 2 tahun, disitulah penanaman nilai-nilai baik. Dari segi ilmu kedokteran, usia 0-12 tahun adalah saat penting dalam perkembangan    otak    anak.
2)    Menurut Benyamin Spock, usia 0-12 tahun merupakan masa
emas     anak untuk dirangsang intelektual dan kreativitasnya, karena 80% perkembangan anak ditentukan pada usia tersebut. Penelitian mutakhir tentang otak, anak-anak cenderung berkembang lebih positif bila otaknya (kiri dan kanan) intensif dirangsang. Dari uraian tersebut bisa disimpulkan, niali-nilai agama selayaknya diperkenalkan sejak usia bayi dan dengan intensitas yang tinggi sampai dengan usia 12 tahun.
3)    Penelitian Universitas Erasmus Rotterdam (1989), misalnya menemukan bahwa pelajar setingkat lanjutan pertama dan atas yang sehari menonton televisi sampai 4 - 5 jam ternyata punya minat baca rendah. Mereka cenderung hanya membaca buku-buku wajib karena sebagian besar waktunya tersita oleh acara-acara televisi. Sementara itu, penelitian Carlsson Peige dan Lesley di Amerika Serikat menemukan fakta bahwa penayangan film seri Power Ranger di televisi menyebabkan anak-anak menjadi agresif. Anak-anak menjadi sering terlibat baku hantam dengan sesamanya, bahkan sampai menyebabkan korban tewas. Studi lain menemukan bahwa anak-anak yang banyak menonton adegan kekerasan dalam televisi pada usia 8 tahun memiliki kecenderungan lebih tinggi melakukan kejahatan kekerasan pada usia 30 tahun, termasuk memukul anak-anaknya sendiri.
4)    Di AS, Inggris dan Australia, waktu yang dihabiskan anak sekolah untuk menonton acara televisi rata-rata 3 jam sehari atau 20 - 25 jam perminggu. Itu hampir sama lamanya dengan kewajiban mereka untuk belajar (Kompas, 19/4/95). Di kalangan anak prasekolah, lama anak nonton televisi lebih banyak lagi, 26,3 jam perminggu di mana tiga jam diantaranya tayangan iklan.
Di Indonesia kendati belum ada penelitian yang berskala nasional, diperkirakan polanya kurang lebih sama. Sepanjang film dan acara televisi memiliki muatan edukatif yang positif bagi perkembangan psikologis anak, barangkali waktu luang anak yang sebagian besar dimanfaatkan untuk menonton televisi tidak menjadi soal. Namun masalahnya berkembang agak lain ketika banyak orang menilai dan merasa bahwa adegan yang ditayangkan ternyata lebih banyak yang tidak Islamy (bersifat anti sosial, mengajarkan kemusyrikan, mengumbar aurat, pergaulan bebas dan sebagainya). Disamping itu, diyakini televisi tidak hanya mempengaruhi perubahan pola konsumsi anak, tapi disinyalir juga menyebabkan berbagai perubahan perilaku lain pada anak, seperti menurunnya minat baca dan memicu munculnya berbagai aksi kekerasan pada anak.
Pengenalan pendidikan agama pada anak sejak usia dini memiliki beberapa manfaat, diantaranya:
1)    Terbentuknya kepribadian muslim yang unggul secara intelektual, anggun secara moral, dan terampil dalam beramal, agar ia kelak mampu hidup dalam suasana persaingan hidup yang semakin kompetitif tanpa kehilangan identitas dan jati dirinya sebagai seorang muslim
2)    Dapat memberikan perencanaan yang jelas perihal masa depan mereka
3)    Dapat menyelamatkan anak dari keruntuhan moral
4)    Menanamkan benteng keimanan dan ketaqwaan yang kokoh
serta pedang keilmuan yang tajam., dan
5)    Anak bisa menjadi orang yang nantinya bermanfaat bagi orang lain.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan:
(1)    Pertumbuhan jiwa agama atau spiritualitas pada anak telah dimulai sejak lahir dan bekal itulah yang akan dibawanya ketika memasuki pendidikan sekolah untuk pertama kali. Pendidikan agama pada umur ini melalui semua pengalaman anak, baik melalui ucapan yang didengarnya, tindakan, perbuatan, dan sikap yang dilihatnya maupun perlakuan yang dirasakannya.
(2)    Pendidikan agama pada masa ini mulai ditujukan untuk membentuk spiritualitas anak seutuhnya, mulai dari pembinaan sikap dan pribadinya, sampai kepada pembinaan tingkah laku(akhlak) yang sesuai dengan ajaran agama. Contohnya melalui sholat berjama’ah, pergi ke masjid beramai-ramai dan ibadah sosial.
B.    Saran
Untuk membentuk spritualitas pada anak, seharusnya orang tua memberikan contoh keteladanan dengan melakukan tindakan dan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama, sehingga menimbulkan pada anak pengalaman-pengalaman hidup yang sesuai dengan agama, yang kemudian akan bertumbuh menjadi unsur-unsur, yang merupakan bagian dalam pribadinya nanti


DAFTAR PUSTAKA    
Anonim. Pendidikan Untuk Membentuk Anak Sholeh. www.geocities.com. 22 Januari 2008.
Asfandiyar, Andi Yudha. Pendidikan Qur'ani-Senantiasa Berpihak pada Anak. www.keyanaku.blogspot.com. 9 Desember 2007.
Daradjat, Zakiah. 1990. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT Bulan Bintang.
Herry, Musleh. Kenalkan Agama Sejak Dini pada Anak. www.pesantren.or.id. 5 Mei 2008.
Mudjitahid.2004. Membangun Anak Negeri. Nusa Tenggara Barat : Lembaga Perlindungan Anak

1 komentar:

A'an syaiful malik mengatakan...

artikel sangat bagus dan sangat berguna
terima kasih
http://mahkotazadan.com/

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
© Copyright 2012. Makalah Cyber . All rights reserved | Makalah Cyber.blogspot.com is proudly powered by Blogger.com | Template by Makalah Cyber - Zoenk