Rabu, 29 Agustus 2012

MAKALAH IDEOLOGI PENDIDIKAN LIBERAL

| Rabu, 29 Agustus 2012 | 0 komentar

KATA PENGANTAR

Pertama - tama, Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas burkat dan rahmat serta karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan tugas karya ilmiah yang disusun untuk memenuhi Tugas praktek Bahasa Indonesia sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Terima Kasih Penulis sampaikan kepada Guru Bidang Studi Bahasa Indonesia yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk mengerjakan Tugas Karya Ilmiah ini, sehingga Penulis menjadi lebih mengerti dan memahami tentang Pendidikan, Tak lupa Penulis juga mengucapkan Terima kasih yang sebesar - besarnya kepada Seluruh Pihak yang baik secara langsung maupun tidak langsung telah tnembantu dalam upaya penyelesaian Karya Ilmiah ini baik mendukung secara moril maupun materil.
Adapun yang menjadi judul daripada Karya Ilmiah ini adalah "Idiologi Pendidikan Liberal'; Sesuai dengan judul yang dipilih, maka Karya ilmiah ini membahas tentang Paradigma Idiologi Pendidikan, Paradigma Idialogi Kritis dan Idiologi Liberal serta Paradigma Idiologi Pendidikan Liberal saat ini. Hingga dapat disimpulkan bahwa Pada paradigma pendidikan liberal, fokus utama terletak pada bagaimana membuat anak didik memiliki kemampuan untuk bersaing di tengah system yang berlaku di masyarakat.
Ibarat pepatah "Tak Ada Gading Yang Tak Retak", maka begitu pulalah dengan hanya Ilmiah ini, walaupun Penulis telah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi Penulis menyadari bahura masih banyak terdapat kesalahan, kekurangan dan kesilapan dalam. Karya Ilmiah ini, untuk itu, Saran dan kritik tetap penulis harapkan demi perbaikan makalah ini kedepan. Akhir kata penulis berharap Karya Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Terima Kasih.


Medan, Maret 2009
Penulis,

HENDYANTO


DAFTAR ISI


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring pergantian zaman, paham-paham yang berkembang didunia mengalami berbagai perubahan. Hal ini dipengaruhi oleh pola pikir yang berkembang pada zaman tertentu. Ada pertentangan-pertentangan yang senantiasa bertarung dan secara silih berganti mendominasi pola pemikiran masyarakat.
Misalnya pertarungan antara agama dan sains. Pada zaman pertengahan agama mendominasi, dan sains termarjinalkan. Selanjutnya pada zaman renaissance hingga sekarang, sains mendorninasi dan menjadi alat ukur kebenaran sedangkan agama lebih cenderung dimarjinalkan. Dalam tataran ideologi, pertarungan antara kapitalisme dan sosialisme mewarnai ideologi masyarakat dunia.
Kapitalisme yang dimotori oleh Amerika berpegang pada kebebasan individu secara mutlak, sedangkan sosialisme yang dimotori oleh Rusia berpegang pada pembatasan terhadap kebebasan individu, dan semuanya diatur oleh Negara untuk kepentingan bersama. Pertarungan ini akhirnya dimenangkan oleh Amerika sebagai pembawa bendera kapitalis yang akhimya berdampak pada berbagai sector kehidupan masyarakat, salah satunya pada sector pendidikan.
Pendidikan memiliki peranan penting dalam pengembangan kemampuan seseorang. Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan pengetahuan yang nantinya menjadi bekal dalam kehidupan ditengah masyarakat. Isu tentang pendidikan menarik dan senantiasa actual pendidikan tidak pernah lekang oleh zaman, mulai dari zaman Adam, Hermes, sampai zaman kita sekarang bahkan juga pada zaman-zaman berikutnya.
Pendidikan juga tidak bisa lepas dari ideologi yang berkembang ditengah masyarakat. Ideologi ini turut mewarnai pendidikan sehingga pendidikan yang dilakukan ditengah masyarakat memiliki karakteristik tertentu yang identik dengan ideologi tertentu pula. Setidal-nya ada tiga ideologi yang berkembang dalam dunia pendidikan, yaitu konservatif, liberal dan kapitalis. Perbedaan dari ketiga ideology tersebut terkait dengan bagaimana pandangan manusia terkait dengan apa yang menimpanya. Hal ini akan berdampak pada metode dan cara pembelajaran yang diberikan oleh pendidikan dengan ideologi tertentu.
Kapitalisme global berimplikasi pada pengakuan terhadap hak individu. Hal ini menimbulkan paham liberalisme yang menekankan kebebasan pada masing-masing individu dalam segala hal. Dalam menghadapi ha1 tersebut, pendidikan dituntut untuk mempersiapkan generasi-generasi yang mampu berinteraksi dengan keadaaan yang terjadi sekarang. Untuk itu kemudian ideologi pendidikan liberal muncul. Selanjutnya tulisan ini akan membahas tentang ideologi pendidikan liberal saat ini.

1.2. Rumusan Masalah
Dalam penulisan karya ilmiah ini terdapat rumusan masalah yaitu sebagai berikut :
  1. Bagaimankah perkembangan ideology Pendidikan liberal?
  2. Bagaimana ideologi Pendidikan liberal Saat ini?
1.3. Identifikasi Masalah
Dalam karya ilmiah ini terdapat masalah yang dapat diidentitikasikan yaitu :
  1. Apakah pendidikan akan melegitimasi sistem dan struktur sosial yang ada ataukah berperan kritis dalam usaha melakukan perubahan sosial dan transformasi menuju dunia yang lebih adil.
  2. Terdapat tiga ideologi yang berkembang dalam dunia pendidikan, yaitu konservatif, liberal dan kapitalis. Perbedaan dari ketiga ideology tersebut terkait dengan bagaimana pandangan manusia terkait dengan apa yang menimpanya. Hal ini akan berdampak pada metode dan cara pembelajaran yang diberikan oleh pendidikan dengan ideologi tertentu,
1.4. Manfaat Penulisan
Adapun yang menjadi manfaat daripada penulisan karya ilmiah ini adalah :
  1. Untuk mengetahui apa itu idiologi pendidikan liberal
  2. Untuk mengetahui perkembagan idiologi liberal
  3. Untuk mengetahui kondisi idiologi pendidikan liberal saat ini
  4. Untuk dijadikan sebagai pedoman pada penulisan perkembangan karya ilmiah selanjutnya.
1.5. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya ilmiah ini selain sebagai pemenuhan tugas Praktek Bahasa Indonesia, juga sebagai media untuk mempraktekkan ilmu yang telah dipelajari dan didapat selama ini tentu saja khususnya dalam mengalnati idialogi pendidikan liberal di Indonesia dan untuk mengetahui Paradigma idiologi pendidikan Liberal saat ini khususnya di Indonesia.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Paradigma

Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Paradigma memiliki arti daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi dan deklinasi kata tersebut; Model dalam Teori Ilmu Pengetahuan; dan Kerangka berpikir;

2.2. Pengertian Idiologi

Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), idiologi memiliki arti Kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup; cara berpikir seseorang atau suatu golangan; Paham, Teori dan Tujuan yang merupakan satu program sosial politik;

2.3. Pengertian Pendidikan

Menurut Wikipedia (http://id.wikipedia.orglwiki/Pendidikan), Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian din', kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.
Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan khususnya di Indonesia yaitu :
Faktor internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan. Dalam hal ini, interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.
Faltor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya. Dimana, masyarakat merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan

2.4. Pengertian Liberal

Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), liberal memiliki arti bersifat bebas; berpandangan bebas (luas dan terbuka);
Jadi berdasarkan pengertian - pengeertian diatas, Paradigma Idiologi Pendidikan Liberal dapat diartikan sebagai Model dalam Teori Ilmu Pengetahuan dalam usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat yang sesuai dengan Paham, Teori dan Tujuan yang merupakan satu program sosial politik yang bebasm berpandangan luas dan terbuka.




BAB III
PEMBAHASAN


3.1. Paradigma Ideologi Pendidikan

Menurut William O'neil, pakar pendidikan dari University of Southern California dalam ideologi Pendidikan (2001 ) bahwa pendidikan kalau boleh diibaratkan seperti seorang musafir yang sedang berada pada persimpangan jalan. Jalan mana yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan adalah pilihan. Begitu juga dengan pendidikan, memilih jalan itu merupakan hal yang amat penting dan menentukan keberhasilan.
Akan tetapi, dalam pendidikan yang menjadi persoalan adalah apakah pendidikan akan melegitimasi sistem dan struktur sosial yang ada ataukah berperan kritis dalam usaha melakukan perubahan sosial dan transformasi menuju dunia yang lebih adil. Dari adanya dua pilihan itulah, akhirnya melahirkan Ideologi pendidikan liberal dan Kritis. Kedua paradigma tersebut dijabarkan sebagai Paradigma kritis dan paradigma liberal.

3.2. Paradigma Idiologi Kritis dan Idiologi Liberal

Menurut paradigma kritis, pendidikan merupakan arena perjuangan politik. Dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis, terhadap 'the dominant ideologi' kearah transformasi sosial. Tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar cikap kritis terhadap sistim dan sruktur ketidakadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil. Pendidikan tidak bisa bersikap netral, bersikap obyektif maupun berjarak dengan masyarakat (detachment) seperti anjuran positivisme. Visi pendidikan adalah melakukan kritik terhadap sistim dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas untuk mencipta sistim sosial baru dan lebih adil. Dalam perspektif kritis, pendidikan harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis untuk transformasi sosial. Dengan kata lain tugas utama pendidikan adalah 'memanusiakan' kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adi1.

Kedua yakni paradigma Liberal, berangkat dari keyakinan bahwa tidak ada masalah dalam sistim yang berlaku ditengah masyarakat, masalahnya terletak pada mentalitas, kreativitas, motivasi, ketrampilan teknis, serta kecerdasan anak didik. Paradigma pendidikan liberal kemudian menimbulkan suatu kesadaran, yang Dengan meminjam istilah Freire (1970) disebut sebagai kesadaran naif Keadaan yang di katagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat `aspek manusia` menjadi akar penyebab masalah masarakat. Dalam kesadaran ini 'masalah etika, kreativitas, 'need for achevernent' dianggap sebagai penentu perubahan sosial.

Jadi dalam menganalisis misalnya mengapa suatu masyarakat miskin menurut paradigtna pendidikan liberal karena `salah' masyarakat yang miskin itu sendiri, yakni mereka malas, tidak memiliki kewiraswataan, atau tidak memiliki budaya 'membangunan' dan seterusnya. Oleh karena itu 'man power development' adalah sesuatu yang diharapkan akan menjadi pemicu perubahan. Pendidikan dalam kontek ini tidak mempertanyakan systim dan struktur yang berlaku, bahkan systim dan struktur yang ada dianggap sudah baik dan benar.

Dalam memandang tentang realitas sosial yang sedang berjalan, kaum liberal lebih berorientasi pada upaya menyesuaikan "subyek" terhadap realitas yang melingkupinya. Dengan demikian, berdasarkan pandangan ini, yang harus berubah adalah "subyeknya", dalam hal ini peserta didik, agar bisa beradaptasi dengan sistem dan struktur yang sedang berjalan.

2.1. Paradigma Idiologi Pendidikan Liberal

Berkaitan dengan pendidikan, kaum liberal beranggapan bahwa persoalan pendidikan terlepas dari persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Dan pendidikan tidak memiliki kemudian lebih diarahkan pada penyesuaian atas sistem dan struktur sosial yang berjalan. Yang lebih diperhatikan adalah bagaimana meningkatkan kualitas dari proses belajar mengajar sendiri, fasilitas dan kelas yang baru, modernisasi peralatan sekolah, penyeimbangan rasio guru-murid. Selain itu juga berbagai investasi untuk meningkatkan rnetodologi pengajaran dan pelatihan yang lebih effisien dan partisipatif, seperti kelompok dinamik (group dynamics) 'learning by doing', 'experimental learning', ataupun bahkan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sebagainya. LTsaha peningkatan tersebut terisolasi dengan svstem dan struktur ketidak adilan kelas dan gender, dominasi budaya dan represi politik yang ada dalam masyarakat.
Kaum Libera sama-sama berpendirian bahwa pendidiakan adalah politik, dan “excellence" haruslah merupakan target utama pendidikan. Kaum Liberal beranggapan bahwa masalah mayarakat dan pendidikan adalah dua masalah yang berbeda. Mereka tidak melihat kaitan pendidikan dalam struktur kelas dan dominasi politik dan budaya serta diskriminasi gender dimasyarakat luas. Bahkan pendidikan bagi salah satu aliran liberal yakni `structural funrtionalisme' justu dimaksud sebagai sarana untuk menstabilkan norma dan nilai masyarakat. Pendidikan justru dimaksudkan sebagai media untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai nilai tata susila keyakinan dan nilai - nilai dasar agar masyarakat luas berfungsi secara baik.

Pendekatan liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran tentang pendidikan rti berbagai macam pelatihan. Akar dan pendidikan ini adalah Liberalisme, yakni suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak, dan kebebasan (freedoms), serta mengidentifikasi problem dan upaya perubahan sosial secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang.

Konsep pendidikan dalam tradisi liberal berakar pada cita cita Barat tentang individualisme. Ide palitik liberalisme sejarahnya berkait erat dengan bangkitnya kelas liberalisme dalam pendidikan dapat dianalisa dengan melihat komponen komponennya. Komponen pertama, adalah komponen pengaruh filsafat Barat tentang model manusia universal yaitu manusia yang "rational liberal". Ada beberapa asumsi yang mendukung konsep manusia "rasional liberal" seperti: pertama bahwa semua manusia memiliki potensi sama dalam intelektual, kedua baik tatanan alam maupun norma sosial dapat ditangkap oleh akal. Ketiga adalah "individualis" yakni adanya angapan bahwa manusia adalah atomistik dan atanom (Bay,1988). Menernpatkan individu socara atomistic, membawa pada keyakinan bahwa hubungan sosial sebagai kebetulan, dan masyarakat dianggap tidak stabil karena interest anggotanya yang tidak stabil.

Pengaruh liberal ini kelihatan dalam pendidikan yang mengutamakan prestasi melalui proses persaingan antar murid. Perankingan untuk menentukan murid terbaik, adalah implikasi dari paham pendidikan ini. Pengaruh pendidikan liberal juga dapat dilihat dalam berbagai training management, kewiraswastaan, dan training-training yang lain. Contoh kongkrit pendekatan liberal bisa kita lihat pada Achievement Motivation Training (AMT) McClelland. McClelland berpendapat bahwa akar masalah keterbelakangan dunia ketiga karena mereka tidak memiliki apa yang dinamakannya N Ach. Oleh karena sarat pembangunan bagi rakyat dunia ketiga adalah perlu virus "N ach" yang membuat individu agresif dan rasional
Komponen kedua adalah Positivisme. Positivisme sebagai suatu paradigma ihnu sosial yang dominan sewasa ini juga menjadi dasar bagi model pendidikan Liberal. Positivisme pada dasarnya adalah ilmu sosial yang dipinjam dari pandangan, metode dan teknik ilmu alarn memahami realitas. Positivisme sebagai suatu aliran filsafat berakar pada tradisi ilmu ilrnu sosial yang dikembangkan dengan mengambil cara ilmu alam menguasai benda, yakni dengan kepercayaan adanya universalisme and generalisasi, melalui metode determinasi, 'fixed law' atau kumpulan hukum teori (Schoyer, 1973). Positivisme berasumsi bahwa penjelasan tungal dianggap "appropriate" untuk semua fenomena.
Oleh karena itu riset sosial ataupun pendidikan dan pelatihan harus didekati dengan positivisme yang melibatkan unsur-unsur seperti obyektivitas, empiris, tidak memihak, detachment, rasional dan bebas nilai. Pengetahuan selalu menganut hukum ilmiah yang bersifat universal, prosedur harus dikuantifisir dan diveritikasi dengan metode "scientific". Dengan kata lain, positivism mensaratkan pemisahan fakta dan nilai dalam rangka menuju pada pemahaman obyektif atas realitas sosial.
Pendidikan dan pelatihan dalam positivistik bersifat fabrikasi dan mekanisasi untuk memproduksi keluaran pendidikan yang harus sesuai dengan `pasar kerja'. Dalam pola pemikiran positivistic Murid dididik untuk tunduk pada struktur yang ada. Dari sana, bisa kita lihat bahwa pada paradigma liberal pendidikan biasanya lebih melanggengkan system yang ada dengan melahirkan anak-anak didik yang berperan dalam mempertahankan system tersebut.

Tradisi liberal telah mendominasi konsep pendidikan hingga saat ini. Pendidikan liberal adalah menjadi bagian dari globalisasi ekonomi 'liberal' kapitalisme. Dalam kontek lokal, paradigma pendidikan liberal telah menjadi bagian dari sistim developmentalisme, dimana sistim tersebut ditegakan pada suatu asumsi bahwa akar 'underdevelopment' karena rakyat udak mampu terlibat dalam sistim kapitalisme. Pendidikan harus membantu peserta didik untuk masuk dalam sistim developmentalisme tersebut, sehingga masyarakat memiliki kemampuan dalam kompetisi di system kapitalis.



BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan pada Bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan yaitu Pada paradigma pendidikan liberal, fokus utama terletak pada bagaimana membuat anak didik memiliki kemampuan sehingga mereka bisa bersaing di tengah sistem yang berlaku pada masyarakat. Pendidikan liberal tidak melihat masalah yang berkembang daiam masyarakat karena sistem sosial masyarakat tersebut, tetapi karena ketidaksiapan manusia dalam menghadapi sistem. Sehingga ini akan mengakibatkan pembelajaran yang bersifat memberikan pengetahuan dan keterampilan yang berguna sebanyak-banyaknya kepada anak didik, pengetahuan bersifat doktriner dan menilai sesuatu hanya dengan melihat kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh anak didik. Menariknya ideologi pendidikan inilah yang sekarang sedang berkembang ditengah-tengah masyarakat global.



DAFTAR PUSTAKA


http://www.fppm.org/Info%20Anda/pendidikan%20yang%20membebaskan.htm.
Mansaor Faqih dan Toko Raharjo. Pendidikan yang memebebaskan . Agustus 2002
http://www.pikiran-rakyat.com/Artikel/0802.htm
Ahmad Dahidi & Miftachul Amri. Potrt Pendidikan di Jepang, Sebuah Refleksi. 22 Mei 2003
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan
Depdikans Indonesia, 2001, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Pusat Bahasa Pendidikan Nasional. Penerbit : Balai Pustaka; Jakarta

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
© Copyright 2012. Makalah Cyber . All rights reserved | Makalah Cyber.blogspot.com is proudly powered by Blogger.com | Template by Makalah Cyber - Zoenk