Halo para sahabat searching makalah Cyber ( MakBer) semuanya, kali ini makalah Cyber membahas Makalah Kebidanan yang berjudul "TUBERCOLOSIS-PARUT BC"
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
World
Health Organization (WHO) pada tahun 2003 memperkirakan setiap tahun
terjadi 583.000 kasus baru TB paru dengan kematian sekitar 140.000
orang. Secara kasar diperkirakan dalam setiap 100.000 penduduk Indonesia
terdapat 130 orang penderita baru TB Paru BTA positif dan penyakit TB
Paru ini menyerang sebagian kelompok usia yang merupakan sumber daya
manusia yang penting dalam pembangunan bangsa (Depkes RI, 2004).
Hasil
penelitian Sudira (2005), menunjukan bahwa TB paru adalah sebagai
penyebab kematian ketiga terbesar sesudah penyakit kardiovaskuler dan
penyakit saluran pernapasan serta menduduki urutan pertama pada kelompok
penyakit infeksi.
Program
pemberantasan penyakit TB paru bertujuan untuk menurunkan insiden dan
prevalensi penyakit/penderita TB paru dengan jalan memutuskan rantai
penularan. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan penerapan teknologi
kesehatan secara tepat oleh petugas-petugas kesehatan yang didukung
peran serta aktif masyarakat. Peran serta masyarakat dapat dicapai
apabila masyarakat memahami tindakan pencegahan yang perlu mereka
lakukan di dalam penanggulangan TB paru. Untuk meningkatkan pemahaman
masyarakat terhadap penyakit TB paru perlu dilakukan upaya penyuluhan.
Selain
dalam bentuk penyuluhan pemerintah pusat dalam hal ini telah berupaya
keras memenuhi sarana dan prasarana seperti sarana diagnosis, sarana
pengobatan dan pengawasan serta pengendalian pengobatan dalam
penanggulangan TB paru. Sejak tahun 1995/1996 setelah dilakukan evaluasi
bersama WHO, Indonesia mulai melaksanakan strategi DOTS (Directly
Observed Treatment Short) melalui pola operasional baru dengan
pembentukan Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) dan Puskesmas Pelaksana
Mandiri (PPM), meskipun demikian cakupan pengobatan masih rendah salah
satu alasan masih rendahnya cakupan pengobatan TB adalah ketidak
teraturan pada saat minum obat (Depkes RI, 2000).
Menurut
Ellis et all (2000) ketidakteraturan waktu minum obat dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu pendidikan, pekerjaan, usia, motivasi dan
komunikasi atau informasi.
Tambayong
(2002) menyimpulkan bahwa faktor ketidakpatuhan terhadap pengobatan
diantaranya adalah kurang pahamnya tujuan pengobatan dan tidak
mengertinya pasien tentang pentingnya mengikuti aturan pengobatan yang
ditetapkan sehubungan dengan prognosisnya.
Fenomena
yang ada di Propinsi Lampung, didapatkan angka kekambuhan penderita TB
masih cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat bahwa dari 100.000 penduduk,
161 orang diantaranya diperkirakan menderita TB paru (Kompas, 2005)
dengan angka kekambuhan 34,24%. Di Kotamadya Metro sendiri pada tahun
2003 – 2006 ditemukan jumlah penderita TB paru sebanyak 161 orang, angka
kekambuhan mencapai 11,73% (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2006).
II. Pengobatan TBC
1. Tujuan Pengobatan
Tujuan
pengobatan penyakit TB adalah menyembuhkan penderita, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, menurunkan tingkat penularan.
2. Prinsip Pengobatan
Obat
TB diberikan dalam bentuk kombinasi dari bebrapa jenis, dalam jumlah
cukup dosis dan dosis tepat selama 6 – 8 bulan. Supaya semua kuman dapat
dibunuh. Dosis tahap intensif dan dosis tahap lanjutan ditelan sebagai
dosis tunggal. Sebaiknya pada saat perut kosong. Bila panduan obat yang
digunakan tidak adekuat (jenis, dosis dan jangka waktu pengobatan).
Kuman TB akan berkembang menjadi kuman kebal obat (resisien) untuk
menjamin kepatuhan penderita menelan obat, pengobatan perlu dilakukan
dengan pengawasan langsung oleh seorang Pengawas Menelan Obat
(PMO). Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan atau inter miten.
a. Tahap Intensif
Pada
tahap intensif (awal) penderita minum obat setiap hari dan diawasi
langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua OAT.
Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi)
pada akhir pengobatan intensif.
b. Tahap Lanjutan
Pada
tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit namun jangka
waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman
resisten sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
3. Panduan OAT di Indonesia
Di
Indonesia paduan OAT yang disediakan oleh program ada 3 macam, yaitu
kategori 1, kategori 2, kategori 3, dan sisipan. Obat diberikan secara
gratis untuk memudahkan pemberian dan menjamin kelangsungan pengobatan,
obat ini disediakan dalam bentuk blister. 1 paket untuk penderita dalam 1
masa kekambuhan.
a. Kategori 1 (2 HRZE / 4 H3R3)
Obat ini diberikan untuk:
1) Penderita TB paru BTA positif.
2) Penderita TB paru BTA negatif Rontgen Positif yang “sakit berat”.
3) Penderita TB ekstra paru berat.
Tabel 2.1.
Paduan OAT Kategori 1
Tahap pengobatan
Lamanya Pengobatan
Dosis per hari / kali
Jumlah hari/kali menelan obat
Tablet Isoniasid @ 300 mg
Tablet Rifampisin @ 450 mg
Tablet Pirasinamid @ 500 mg
Tablet Etambutol @ 250 mg
Tahap Intensif
(dosis harian)
2 bulan
1
1
3
3
60
Tahap Lanjutan
(dosis 3 x seminggu)
4 bulan
2
1
-
-
54
b. Kategori 2 (2 HRZES / HRZE / 5H3R3E3)
Obat ini diberikan untuk:
1) Penderita kambuh (relaps)
2) Penderita gagal (failure)
3) Penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default)
Tabel 2.2
Paduan OAT Kategori 2
Tahap pengobatan
Lamanya Pengobatan
Tablet Isoniasid
@ 300 mg
Tablet Rifam-pisin @ 450 mg
Tablet Pirasin-amid
@ 500 mg
Tablet Etambutol
Streptomisin Injeksi
Jumlah hari/kali menelan obat
@ 250 mg
@ 500 mg
Tahap Intensif
(dosis harian)
2 bulan
1 bulan
1
1
1
1
3
3
3
3
-
-
0,75 gr
-
60
30
Tahap Lanjutan
(dosis 3 x seminggu)
5 bulan
2
1
-
1
2
-
66
c. Kategori 3 (2 HRZ / 4H3R3)
Obat ini diberikan untuk:
1) Penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan.
2) Penderita ekstra paru ringan, yaitu TB kelenjar limfe, TB kulit.
Tabel 2.3
Paduan OAT Kategori 3
Tahap Pengobatan
Lamanya Pengobatan
Tablet Isoniasid
@ 300 mg
Tablet Rifampisin
@ 450 mg
Tablet Pirasinamid
@ 500 mg
Jumlah hari/kali menelan obat
Tahap Intensif
(dosis harian)
1 bulan
1
3
3
30
d. OAT sisipan (HRZE)
Bila
pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan
kategori 1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori
2, hasil pemeriksaan dahak masih positif diberikan obat sisipan (HRZE)
setiap hari selama 1 bulan.
Tabel 2.4.
Paduan OAT Sisipan
Tahap pengobatan
Lamanya Pengobatan
Dosis per hari / kali
Jumlah hari/kali menelan obat
Tablet Isoniasid @ 300 mg
Tablet Rifampisin @ 450 mg
Tablet Pirasinamid @ 500 mg
Tablet Etambutol @ 250 mg
Tahap Intensif
(dosis harian)
1 bulan
1
1
3
3
30
e. Pemantauan Kemajuan Hasil Pengobatan
Pemantauan kemajuan hasil pengobatan dilaksanakan dengan pemeriksaan dahak ulang secara mikroskopik.
1) Akhir tahap intensif
Seminggu
sebelum akhir bulan ke-2 pengobatan penderita dengan kategori 1 dan
kategori 3 atau seminggu sebelum akhir bulan ke 3 pengobatan penderita
dengan kategori 2
2) Sebulan sebelum akhir pengobatan
Seminggu sebelum akhir bulan ke-5 dengan kategori 1 atau seminggu sebelum akhir bulan ke-7 pengobatan dengan kategori-2
3) Akhir pengobatan
Seminggu
sebelum akhir bulan ke-6 pengobatan dengan kategori 1 atau seminggu
sebelum akhir bulan ke-8 pengobatan dengan kategori-2.
4. Hasil pengobatan
Hasil
pengobatan seseorang penderita dapat dikategorikan sebagai: sembuh,
pengobatan lengkap, meninggal, pindah, defaulter (lalai) DO dan gagal.
a. Sembuh
Penderita
dinyatakan sembuh bila hasil pemeriksaan ulang dahak paling sedikit 2
kali berturut-turut negatif. Salah satu diantaranya haruslah pemeriksaan
pada akhir pengobatan.
b. Pengobatan lengkap
Adalah
penderita yang telah menyelesaikan pengobatan secara lengkap tapi tidak
ada hasil pemeriksaan ulang dahak. Khususnya pada akhir pengobatan.
c. Meninggal
Adalah penderita yang dalam masa pengobatan diketahui meninggal karena sebab apapun.
d. Pindah
Adalah penderita yang pindah berobat ke Kabupaten/kota lain.
e. Defaulter atau lalai
Adalah
penderita yang tidak mengambil obat lebih dari 2 bulan dalam masa
antara 2 – 5 bulan pengobatan tetapi BTA negatif sebelum berhenti
berobat.
f. Drop Out
Adalah
penderita yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih
sebelum masa pengobatan selesai/menghentikan pengobatan sebelum
waktunya.
g. Gagal
Adalah
penderita BTA positif pada akhir fase awal setelah pengobatan dengan
sisipan, pada akhir bulan ke-5 (kategori 1), atau bulan ke-7 (kategori
2)
III. Penatalaksanaan Tuberkulosis
1. Penatalaksanaan Medis
a. Tujuan
1) penyembuhan penderita
2) mencegah kematian
3) mencegah kekambuhan
4) menurunkan tingkat penularan
b. Jenis dan dosis OAT
1) Isoniasid (H)
Dikenal
dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90% populasi kuman
dalam bebarapa hari pertama pengobatan. Obat ini sangat efektif terhadap
kuman dalam keadaan metabolik aktif, yaitu kuman yang sedang
berkembang. Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kg BB., sedangkan untuk
pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kg
BB.
2) Rifampisin®
Bersifat
bakterisid, dapat membunuh kuman semi-dormant (persister) yang tidak
dapat dibunuh oleh isoniasid. Dosis 10 mg/kg BB. diberikan sama untuk
pengobatan harian maupun intermiten 3 kali seminggu.
3) Pirasinamid (Z)
Bersifat
bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana
asam. Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kg BB, sedangkan untuk
pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg
BB.
4) Steptomisin (S)
Bersifat
bakterisid. Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB. sedangkan untuk
pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis yang sama.
Penderita berumur sampai 60 tahun dosisnya 0,75
gr/hari, sedangkan untuk berumur 60 tahun atau lebih diberikan 0, 50 gr/hari.
5) Etambutul (E)
Bersifat
sebagai bakteriostatik. Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB.
sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis 30
mg/kg BB.
c. Prinsip Pengobatan
Obat
TBC diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis, dalam jumlah
cukup dan dosis tepat selama 6 – 8 bulan, supaya semua kuman (termasuk
kuman persister) dapat dibunuh. Dosis tahap intensif dan dosis tahap
lanjutan ditelan sebagai dosis tunggal, sebaiknya pada saat perut
kosong. Apabila paduan obat yang digunakan tidak adekuat (jenis, dosis
dan jangka waktu pengobatan), kuman TBC akan berkembang menjadi kuman
kebal obat (resisten). Untuk menjamin kepatuhan penderita menelan obat,
pengobatan perlu dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT = Directy
Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
d. Pengobatan TBC diberikan dalam dua tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
1) Tahap Intensif
Pada
tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi
langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua OAT,
terutama rifampisin. Jika pengobatan tahap intensif tersebut diberikan
secara tepat, biasanya penderita menular menjadi tidak menular dalam
kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TBC BTA positif menjadi
BTA negatif (konvenrsi) pada akhir pengobatan intensif.
2) Tahap lanjutan
Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama.
e. Pencegahan Penularan yaitu dengan cara :
1) Penderita menutup mulut bila batuk atau bersin.
2) Jangan membuang dahak sembarang tempat tetapi menampung di wadah khusus yang telah diberi pasir kemudian dikubur.
3) Pemberian imunisasi BCG untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh basil TB virulen.
4) Isolasi jika pada analisa sputum terdapat bakteri hingga dilakukan cemoterapi.
5) Ventilasi rumah memenuhi syarat 15% X luas lantai sehingga pertukaran udara dalam ruang menjadi baik.
6) Letak jendela memungkinkan matahari masuk ke dalam ruang sehingga kuman-kuman yang mungkin ada dalam lantai menjadi mati.
f. Kontrol
1) Pemeriksaan ulang dahak hingga BTA (-) 3 x berturut-turut
2) Pemeriksaan fisik; adanya kenaikan BB, hilangnya gejala-gejala (berkeringat, anemia, batuk berdahak).
IV. Tuberculosis Paru (TBC)
1. Pengertian
Tubercolosis
(TB) Paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycrobacterium
Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi (Mansjoer, 2000).
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman TBC (Depkes RI, 2000).
Dari
kedua definisi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa TB paru adalah
penyakit infeksi yang menular yang disebabkan oleh kuman TBC.
2. Penyebab
Kuman
penyebab TB paru adalah Mycrobacterium Tuberculosis yaitu kuman
berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada
pewarnaan, oleh karena itu di sebut juga sebagai basil tahan asam (BTA).
Kuman dapat mati dengan sinar Matahari langsung, tetapi dapat bertahan
hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembab. Kuman ini juga bersifat
aerob (Suriadi dan Rita, 2001).
3. Cara Penularan
Sumber
penularan adalah penderita TB paru BTA Positif. Pada waktu batuk atau
bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara
pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau
droplet terhirup ke dalam pernafasan (Depkes RI, 2000).
4. Patofisiologi
Masuknya
kuman Mycrobacterium Tuberculosis ke dalam tubuh tidak selalu
menimbulkan penyakit infeksi di pengaruhi oleh Virulensi dan banyaknya
basil tuberkulosis serta daya tahan tubuh manusia.Setelah menghirup
basil tuberkulosis hidup di dalam paru-paru, maka menjadi eksudasi dan
konsolidasi yang terbatas yang disebut fokus primer. Basil tuberkulosis
akan menyebar ke kelenjar limfe regional melalui saluran getah bening
menuju ke kelenjar regional sehingga terbentuk komplek primer dan terus
mengadakan reaksi eksudasi terjadi sekitar 2 – 10 minggu (pasca
infeksi).
5. Tipe Penderita
Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada beberapa tipe penderita yaitu:
a. Kasus baru
Adalah penderita yang belum pernah di obati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari 1 bulan.
b. Kambuh
Adalah
penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh kemudian kembali lagi berobat
dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif.
c. Pindahan
Adapun
penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu Kabupaten lain dan
kemudian pindah berobat ke Kabupaten lainnya. Penderita pindahan
tersebut harus membawa surat rujukan atau pindah (form TB 09).
d. Kasus berobat setelah lalai
Adalah
penderita BTA positif yang telah menjadi BTA negatif dan tidak menelan
OAT selama sedikitnya dua bulan antara kedua dan kelima pengobatan dan
kini datang lagi untuk berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA
negatif.
6. Gejala-gejala Tuberkulosis
Keluhan yang dirasakan penderita TB paru dapat bermacam-macam atau tanpa keluhan sama sekali, keluhan yang banyak adalah:
Demam biasanya subfibris menyerupai demam influenza sehingga mempengaruhi daya tahan tubuh.
Batuk
gejala ini banyak ditemukan pada penderita TB paru. Batuk terjadi
karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini diperuntukan untuk
membuang produk-produk radang keluar. Sifat batuk dimulai dari batuk
kering (non produktif). Kemudian setelah timbul peradangan menjadi
produtif menghasilkan sputum. Keadaan lebih lanjut adalah berupa batuk
darah (Hemaptoe) karena pembuluh darah pecah.
7. Komplikasi
Komplikasi berat sering terjadi pada penderita stadium lanjut
a. Hemoptis berat (peredaran dari saluran nafas bawah)
b. Kolaps dari lobus akibat dari retraksi bronkial
c. Bronki ektasis dan fibrosis pada paru.
d. Pneumo thorax spontan: Kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru.
8. Pemeriksaan diagnostik
Jenis pemeriksaan yang dilakukan dalam menegakkan diagnosa tuberkulosis adalah dengan cara yaitu:
a. Anamnesis dan pemeriksaan fisik
b. Pemeriksaan sputum BTA
c. Foto torax
d. Laboratorium darah rutin
e. Tes tuberkulin
9. Pencegahan Penyakit TB paru
Penyakit TB paru dapat dicegah penularannya dengan cara:
a. Menutup mulut bila batuk dan bersin bagi penderita TB paru
b.
Tidak membuang ludah atau dahak pada sembarang tempat, tetapi pada
wadah tertutup (kaleng diisi larutan lusol) kemudian dibuang dalam
lubang dan ditimbun dengan tanah.
c. Berikan imunisasi BCG pada bayi, agar bayi memiliki kekebalan terhadap penyakit Tubercolosis.
KESIMPULAN DAN SARAN
I. Kesimpulan
1. Obat TB diberikan dalam bentuk kombinasi dari bebrapa jenis, dalam jumlah cukup dosis dan dosis tepat selama 6 – 8 bulan.
2. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan atau inter miten
II. Saran
1.
Diharapkan bagi petugas kesehatan khususnya petugas pengawas minum obat
agar lebih memperhatikan pola minum obat pada penderita TB dengan
harapan agar penderita dapat lebih cepat sembuh.
2.
Bagi penderita TB khususnya agar dapat dengan aktif mengikuti
pengobatan yang dilaksanakan di Puskesmas maupun klinik kesehatan salah
satunya adalah dengan mematuhi aturan minum obat TB dengan harapan dapat
mempercepat proses penyembuhan penyakit TB yang diderita.
DAFTAR PUSTAKA
Arif, Mansjoer, dkk, Kapita Selekta Kedoteraan; Edisi Ketiga. 2000.
Depkes RI, Promosi Penanggulangan Tuberkulosis, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 1999.
------------, Pengobatan yang Rasional, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 2000.
-------------, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 2002.
Ellis et.al, Komunikasi Interpersonal dalam Keperawatan, EGC. Jakarta. 2000.
http://www.depkes.co.id, 2004.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/27/daerah/2321247.htm, Lampung, Provinsi dengan Penderita TBC Terbanyak. 2005.
http://www.members.tripod.com/farmasi_UGM/mf1.htm.7k, Hasil Penelitian Ikawati Tentang Tuberculosis Paru. 2005.
Sarwono Waspadji, Ilmu Penyakit Dalam: Jilid II, Balai Pustaka, FKUI. Jakarta, 1990.
Sudira,
I Wayan, Peranan Penyuluhan Terhadap Perubahan Pengetahuan tentang
Penyakit TB Paru pada Penderita TB. Paru di Puskesmas Sendang Agung.
Poltekkes Tanjung Karang Jurusan Keperawatan. Tidak diterbitkan. Tanjung
Karang. 2005.
Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson, Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Potofisiologi, Buku Kedokteran, EGC. Jakarta. 1995.
Tambayong, Farmakologi untuk Keperawatan, Widya Medika, Jakarta. 1995.
Sekian dulu pembahasan Makalah Kebidanan yang berjudul "TUBERCOLOSIS-PARUT BC". untuk para Sobat searching Makalah Cyber ( MakBer ) setia, semoga makalah yang kami bagikan dapat bermanfaat bagi para MakBer semua. jangan lupa follow twitter kami @makalahcyber dan like Facebook kami yaitu Makalah Cyber supaya tidak ketinggalan informasi makalah terupdate dari Makalah cyber. terima kasih para MakBer telah berkunjung di Makalah Cyber. Makalah Cyber adalah tempat Kumpulan Makalah terlengkap no 1 di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar