Selasa, 24 Juli 2012

“Analisis Faktor-Faktor terhadap Penyimpangan Perilaku Seorang Lesbi”

| Selasa, 24 Juli 2012 | 0 komentar

KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikumsalam Wr.Wb.
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT., shalawat serta salam  semoga tetap  tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw, beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah membimbing kita dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang.

Kami berharap makalah yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor terhadap Penyimpangan Perilaku Seorang Lesbi” ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi kami khususnya, segenap pembaca umumnya. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagi pihak sangat kami harapkan untuk menuju kesempurnaan makalah ini.
Demikian  makalah ini dapat kami sampaikan  semoga bermanfaat dan bisa dipergunakan sebagaimana mestinya. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah bersusah payah membantu hingga terselesaikannya penulisan makalah ini. Semoga semua bantuan dicatat sebagai amal sholeh di hadapan Allah SWT. Amin Yaa Rabbal Alamin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.




Jakarta, 13 April 2012



BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali dijumpai wanita yang histerius mengagumi seorang lelaki yang memiliki kelebihan. Salah satu contohnya adalah seseorang wanita yang berani mengatakan perasaannya pada lelaki tersebut secara langsung dan teriak histeris agar lelaki tersebut merespon tingkah lakunya. Dengan perkembangan dan kemajuan zaman ini, kehidupan di Indonesia sangatlah terpengaruh oleh kebudayaan barat. Dimana dalam kehidupan ini semua kegiatan, aktifitas yang dilakukan tanpa memikirkan dasar hukum yang telah ada. Padahal dalam identitasnya mereka memiliki agama  tetapi tidak peduli terhadap hal itu.
Dalam makalah ini, kami melakukan observasi kepada orang yang mengalami kelainan psikis atau keterbelakangan pola pikirnya yang disebabkan oleh kondisi lingkungan atau pergaulan yang tidak sehat. Remaja seperti ini, pengendalian diri masih terbilang labil, namun itu semua tergantung pada diri sendiri. Tidak ada yang mengetahui kisahnya selain para sahabat dekatnya. Persahabatan sangat tidak mudah untuk dijalani, adanya perasaan untuk bergaul dengan anggota atau kaum yang lain itu selalu ada dalam benaknya. Hal itu terjadi karena masa remaja sangatlah sensitif dan sangat mudah untuk terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya sehingga dia lebih memilih bergaul dengan kaum atau perkumpulan yang salah, sehingga kondisi pikirannya menjadi terpengaruh dan mengikuti semua yang dikatakan oleh salah satu anggota kelompok yang salah untuk menjadikan wanita tersebut menjadi seorang lesbi atau penyuka sesama jenis. Dia pun bergabung dengan kaum homoseksual yang di dalamnya terdapat anggota lesbi dan homo.
Sebelumnya, kondisi psikis wanita tersebut normal. Layaknya perempuan lain yang menyukai lawan jenisnya yang menurutnya cukup sempurna. Namun karena lingkungan atau suatu pergaulan yang tidak sehat dan kurangnya perhatian dari orang-orang terdekatnya maka dia menjadi wanita yang melanggar kodrat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Perjalanan hidupnya dalam menjalani hubungan itu sangatlah tidak mudah, banyak kalangan tertentu yang tidak setuju dengan keberadaan pola tingkah laku yang bertentangan dengan agama.
Sebagai upaya penyembuhannya, dia melakukan pengendalian diri untuk melawan nafsu yang menyalahi kodrat dan mencari saran atau perhatian dari orang-orang yang menurutnya bisa memecahkan solusinya. Namun upaya yang dilakukannya itu tidak menimbulkan perubahan pada dirinya sendiri karena faktor dari orang-orang yang berada pada pergaulannya tersebut masih berusaha mempengaruhinya dan pola pikirnya yang menjadikan tingkah lakunya seperti itu. Selama menjalani hubungan yang terlarang oleh agama tersebut dia juga sering melakukan hal positif yang dapat membahagiakan setiap orang di sekelilingnya. Contohnya, prestasi yang masih didapatkan demi membahagiakan orang tuanya.
Setiap orang yang mengalami kekurangan pasti akan berpengaruh pada psikologisnya, begitu juga dengan dia. Awalnya dia merasa kurang percaya diri dengan lingkungannya yang masih normal, tetapi seiring berjalannya waktu dia pun mulai menyadari bahwa hal itu sangat ditentang agama dan timbul rasa malu dan hasrat ingin meninggalkan pergaulan tersebut. Dia sedikit menceritakan pengalaman pribadinya kepada orang-orang yang terpercaya.
Pada masa SMA, dia di juluki wanita “lesbi” oleh teman sekolahnya. Di sekolahnya banyak teman yang menjauhi dia, namun ada juga teman-teman yang setia mendampinginya walau dia seorang penyuka sesama jenis. Di sekolahnya juga ada suatu perkumpulan kaum lesbi yang dirahasiakan oleh anggota perkumpulan tersebut. Tetapi tidak berlangsung lama, salah seorang murid pun membongkarkan rahasia masalah suatu perkumpulan itu kepada Kepala Sekolah dan akhirnya diketahui oleh guru-guru dan murid-murid di sekolahnya. Namun hanya ada beberapa orang yang diketahui menjalani hubungan yang ditentang agama tersebut.
Sejak kejadian itu psikologisnya menjadi semakin terganggu akibat pergaulan yang semakin lama semakin kuat mempengaruhinya. Dia pun menjadi sosok anak perempuan yang mempunyai keterbelakangan pola pikir. Karena perbuatannya yang terlarang itu, ia sempat berpikir untuk tidak menyukai lawan jenisnya. Tetapi dibalik semua itu, dia mendapat motivasi dari buku-buku yang dibacanya dan orang-orang terpercaya yang selalu menasehati dan memberikan kata-kata positif yang menjadikan ia seseorang yang kuat dalam menghadapi permasalahan hidupnya. Motivasi yang dia terima membuat dia lebih percaya diri bahwa hidup ini tidak untuk disia-siakan melakukan perbuatan keji yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Contohnya, menimbulkan datangnya penyakit HIV AIDS dan dapat merusak sel-sel yang ada di otak bagi yang melakukan hubungan tersebut. Rasa percaya diri yang dia miliki sekarang, membuatnya menjadi orang yang lebih berani berprestasi. Dia juga mempunyai pengalaman-pengalaman seperti, menduduki sebagai kapten basket di sekolahnya dahulu bahkan dia juga terpilih sebagai mahasiswi kebidanan di Universitasnya tersebut. Pengalaman itu bisa dikatakan sebuah prestasi yang dia dapatkan sebagai orang yang memiliki pengalaman terburuk dan dari pengalamannya tersebut bisa dikatakan sebagai suatu pelajaran untuk kaum hawa yang memiliki perilaku yang ditentang agama.

1.2  Identifikasi Kasus
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa diantara makhluk lainnya. Tetapi tidak semua makhluk yang diciptakan oleh Tuhan itu sempurna. Terkadang ada yang mengalami gangguan pada psikisnya pada masa remaja dan memiliki kekurangan dalam hal rohaniah. Maka dari itu, terkadang seseorang merasa pesimis dengan keadaan yang dialaminya dan bisa menyebabkan gangguan psikologis, sehingga membuat dia awalnya tidak percaya diri dalam beradaptasi dengan lingkungan yang normal dan keaktifannya di kelas menjadi berkurang karena merasa malu melihat orang-orang disekitarnya yang mencemoohnya. Kurang perhatian orang tua, pergaulan yang salah serta iman yang kurang menjadi penyebab semua itu sehingga ia pun menjadi sosok perempuan yang mempunyai keterbelakangan pola pikir, untuk itu diperlukan perhatian yang lebih dari semua pihak baik keluarga, orang-orang terdekatnya dan lingkungan.

 1.3  Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui penyimpangan perilaku seorang lesbi.
  2. Mengetahui dampak negatif dari perilaku menyimpang lesbian.
  3. Mengetahui hal – hal yang menyebabkan seseorang menjadi lesbian.
  4. Memahami keadaan psikologi seseorang yang mengalami kelainan pada perilakunya.
  5. Mengetahui perilaku seorang lesbi yang memiliki kelainan psikis.





1.4      Manfaat Penelitian


  1. Dapat lebih memahami perilaku seseorang yang memiliki kelainan pada psikisnya yang berpengaruh pada lingkungannya.
  2. Dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai penyimpangan perilaku lesbian.
  3. Dapat mengetahui dan memperluas wawasan tentang keadaan psikologi dan dampak negatif lesbian.
  4. Dapat mengetahui penyebab seseorang menjadi penyuka sesama jenis.

1.5     Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan observasi ini adalah :
  1. Observasi
  2. Wawancara










BAB II
TELAAH TEORI


2.1.      Mendefinisikan  Lesbian
Lesbian di kategorikan  sebagai penyakit fisik, lambat laun lesbian disebut-sebut sebagai penyakit sosial. Di zaman modern sekarang ini, lesbian sudah menjadi alternatif style bagi kalangan tertentu.
Lesbian adalah wanita atau perempuan yang secara seksual lebih tertarik kepada sejenisnya daripada lelaki. Wanita heteroseksual hanya tertarik pada lelaki saja. Yang disebut biseksual bisa tertarik baik pada wanita maupun lelaki. Masalah seksual bisa sangat kompleks dan jarang bagi seorang untuk hanya tertarik saja kepada satu gender seratus persen dalam hidupnya. Tak tertutup kemungkinan suatu saat sangat tertarik pada lelaki tapi pada saat yang lain amat tertarik pada wanita atau sebaliknya. Perasaan-perasaan seksual ini tidaklah bersifat konstan, dapat berubah sewaktu-waktu. Bahkan amat mungkin seorang ABG adalah lesbian atau biseksual tapi ketika dewasa menjadi heteroseksual, begitu pun sebaliknya.
Perlu diketahui, tak sedikit wanita yang tertarik pada wanita lain, tapi sulit membicarakannya. Dan seperti halnya masalah-masalah lain yang dirasakan tapi enggan untuk membahasnya itu bisa membuat wanita tersebut malu atau merasa seolah-olah ada yang salah dengan dirinya. Tidak, tidak ada yang salah lantaran hal ini normal, semua orang akan mengalami perasaaan-perasaan yang berbeda.
Tapi ada perbedaan antara memiliki ketertarikan pada wanita dan minat seksual yang asli kepada wanita. Ini bukan perbedaan yang bisa dengan mudah dijelaskan dengan kata-kata karena ini berkaitan dengan perasaan-perasaan. Beberapa wanita memiliki ketertarikan secara fisik dan seksual yang konstan kepada wanita, bukannya kepada lelaki. Inilah yang dinamakan lesbian.
Untuk mengubah perilaku penyimpangan seksual ini juga tidak mudah. Pelaku harus bersedia dan benar-benar ingin mengubah diri. Jadi masalah ini banyak tergantung pada diri sendiri dan intensitas lesbiannya. Bila intensitasnya terlalu tinggi, sering sulit diubah lagi. Tetapi kalau dorongan lesbiannya cukup ringan dan dia benar-benar ingin berubah, kemungkinan besar akan berhasil.
2.2.      Penyebab Wanita menjadi Lesbian
Banyak sekali faktor-faktor penyebab wanita menjadi lesbian, seperti:
  1. Pengaruh dan kebiasaan dalam keluarga. Bisa saja ketika masa kanak-kanak ia melihat perlakuan yang tidak baik ayahnya kepada ibu, sehingga timbul rasa tidak tenang berdekatan dengan seorang lelaki.
  2. Pertumbuhan psikis-nya memang tidak diarahkan sebagaimana ia seorang perempuan. Bisa saja karena orang tua-nya menginginkan anak lelaki tetapi yang lahir perempuan. Akibatnya perlakuan terhadap dia, perlakuan terhadap seorang lelaki. Seperti selalu diharuskan memakai pakaian lelaki oleh orang tuanya.
  3. Mendapat  perlakuan seksual yang tidak wajar dari lawan jenis dan mengakibatkan trauma. Sehingga lebih menyukai sesama jenis.
  4. Akibat pengaruh pergaulan yang mengarahkan pada hal-hal yang lebih mencintai dan menyayangi pada sesama jenis. Sehingga menjadi kebiasaan dan sudah tidak asing lagi terhadap pasangan yang sesama jenis.
  5. Kurangnya perhatian dari faktor internal maupun eksternal yang dibutuhkan oleh pelakunya tersebut. Sehingga pelakunya tersebut lebih memilih untuk mencari perhatian dengan berperilaku yang tidak sehat tersebut.


2.3.      Ciri-ciri Lesbi
Orang yang menjadi lesbian tidak selalu mempunyai ciri yang kuat yang membedakan dengan yang tidak lesbian. Ciri yang sering muncul, misalnya:
  1. Memposisikan diri sebagai wanita yang maskulin: penampilannya sangat maskulin, punya hobi maskulin, posesif.
  2. Menunjukkan ketertarikan pada wanita, punya ciri khusus yang menjadi kesepakatan kaumnya.
  3. Sebaliknya ciri lesbi yang berperan sebagai feminim, biasanya penampilannya dingin, ketergantungan tinggi pada pasangannya, tidak mandiri, sering cemas, jaga jarak dengan wanita lain yang bukan pasangannya, sentimentil, dan memiliki sikap dingin kepada laki-laki.

2.4.      Dampak Negatif dari perilaku lesbian

  2.4.1. Dampak bagi pelakunya

  1. Kelainan jiwanya akibat mencintai sesama jenis, akan membuat jiwanya tidak stabil, dan timbul tingkah laku yang aneh-aneh. Misalnya, jika ia seorang lesbian maka ia akan bertingkah dan berpakaian seperti laki-laki.
  2. Gangguan syaraf otak yang dapat melemahkan daya fikir, kemauan dan semangat.
  3. Terkena penyakit AIDS, yang menyebabkan penderitanya kehilangan daya tahan tubuh. Penyakit ini belum ditemukan obatnya.
2.4.2. Dampak bagi lingkungannya
  1. Masyarakat menjadi terganggu dengan adanya perilaku mereka yang bertingkah di luar batas kodratnya dan berpikir untuk lebih memilih dengan memberantas tingkah laku mereka.
  2. Mencemarkan nama baik orang tua dan keluarganya. Sehingga keluarganya dikucilkan oleh lingkungan sekitarnya dan menjadi bahan pembicaraan oleh orang-orang sekitar.
  3. Teman atau sahabatnya menjadi merasa malu karna memiliki teman yang berperilaku tidak sehat tersebut dan menjadi lebih memilih untuk tidak bergaul dengan mereka.

2.5.      Cara Menyembuhkan perilaku lesbian
Wanita lesbian cenderung berpenampilan maskulin, tapi tidak semua lesbian berpenampilan maskulin. Kebanyakan lesbian yang maskulin ini merasa, dirinya laki-laki tapi terjebak dalam tubuh perempuan. Banyak juga dijumpai lesbian yang gayanya seperti perempuan normal, cenderung feminim, bahkan lebih feminim dari perempuan yang normal. Tingkah lakunya mungkin bisa saja lebih halus dari perempuan normal pada umumnya.
Biasanya penampilan feminine terkesan dingin. Selalu ketergantungan sama pasangan, tidak mandiri, sering cemas, jaga jarak dengan wanita lain yang bukan pasangannya. Cenderung sensitif dan dingin kepada laki-laki. Tapi ini bukan ciri yang akurat, cuman ciri inilah yang kebanyakan muncul.

Lesbian yang disebabkan lingkungan, tidak kronis, dan tidak berat, masih bisa dibantu dalam membelokkan orientasi seksualnya. Untuk melakukannya perlu terapi klinis serta
menciptakan lingkungan yang benar-benar bisa mendukung. Bisa jadi seorang lesbian justru bisa menjadi biseksual (mencintai baik pria maupun wanita). Binaan yang paling tepat adalah dari sisi nurani, misalnya keagamaan, konseling psikologis, juga terus berkreasi secara positif.





BAB III
SOLUSI
         
Perlu diketahui cara untuk menyelesaikan masalah agar hubungan penyimpangan tersebut tak berlanjut ke tahap berikutnya. Dari permasalahan yang timbul terhadap pelaku lesbi tentang masalah yang ia hadapi bisa diselesaikan dengan memberikan pengarahan serta nasehat-nasehat yang membuat ia paham betapa dilarangnya perilaku tidak sehat tersebut. Maka kami akan mencoba mencari solusi agar dia berhenti melakukan hal tersebut. Ada beberapa solusi yang dapat kami berikan untuk menyelesaikan masalah-masalah persoalan tentang perilaku menyimpang.

3.1. Solusi untuk Individual
  1. Tanamkan motivasi dalam diri agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang menyimpang.
  2. Harus memiliki konsisten dalam beribadah.
  3. Selalu mohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap langkah dan penuh pertimbangan dalam setiap keputusan.
  4. Selalu introspeksi diri dan mohon ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Untuk mengubah perilaku penyimpangan ini juga tidak mudah, pelaku harus bersedia dan benar-benar ingin mengubah diri. Jadi masalah ini banyak tergantung pada diri sendiri dan lingkungannya.
  6. Berdo’a dan berupaya keras karena dengan begitu perlahan dapat membuat sadar dan takut akan melakukan hubungan yang menyimpang.

3.2.Solusi untuk Lingkungan Internal
  1. Orangtua adalah yang paling wajib mengantisipasi hal itu. Banyak orangtua yang justru kurang peduli bila melihat anak perempuan atau anak laki-lakinya menyimpang dalam hal berpakaian atau bersikap.
  2. Usahakan untuk membawa dia ke tempat pengobatan khusus yang menangani masalah tersebut seperti psikoterapi. Dengan cara pendekatan seperti itu, maka perlahan-lahan dia memiliki pikiran positif untuk menjauhi dan tidak merasa takut akan hal-hal yang membuatnya merasa tertekan.Butuh terapi rutin untuk menumbuhkan rasa empati dan mengalihkan rasa emosi yang melatih diri meredam perasaan ingin melakukan perilaku penyimpangan tersebut.
  3. Berikan dorongan dan dukungan dari keluarga serta orang-orang terdekatnya.

3.3.Solusi untuk Lingkungan Eksternal
  1. Jagalah pergaulan dengan sesama wanita yang menarik hatinya. Bergaul sewajarnya saja, bahkan bila dianggap membahayakan, usahakan menghindari banyak pertemuan dengan mereka. Mulailah dengan mengurangi pertemuan dengan orang yang bersangkutan atau yang membuat dia merasa ke arah negatif jika bergaul dengan kelompok tersebut
  2. Datangilah majelis ilmu agama dan pelajarilah agama dari sumber yang terpercaya untuk membentengi hati dia dari godaan tersebut.
  3. Janganlah terpengaruh oleh budaya barat yang mencoba mempengaruhi pikiran dan budaya pakaian yang cenderung mengikuti budaya mereka.
  4. Jauhi lingkungan, teman dan klub para homoseks dan tinggalkanlah komunitas mereka, bergabunglah dengan orang-orang beriman. Bersabarlah atas cacian, cemo’ohan dan gunjingan orang-orang awam.
  5. Tinggalkan media, internet dan buku-buku tentang penyimpangan seksual. Buang semua buku-buku, foto atau gambar yang akan mengingatkan pada perbuatan lesbi.
  6. Berikan dia rasa yang nyaman untuk bisa menceritakan apa yang membuatnya merasa terdorong mengikuti perilaku penyimpangan tersebut.
  7. Berikan support dan respon yang baik agar dia bisa bertukar fikiran dengan kita sehingga keinginan untuk menjadi pelaku lesbi dapat berkurang bahkan lebih cepat menghilang.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
© Copyright 2012. Makalah Cyber . All rights reserved | Makalah Cyber.blogspot.com is proudly powered by Blogger.com | Template by Makalah Cyber - Zoenk