Selasa, 07 Agustus 2012

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN PERSEPSI DAN SENSORI (NEUROLOGI)

| Selasa, 07 Agustus 2012 | 0 komentar

I.     KLIEN YANG MENJALANI BEDAH INTRAKRANIAL

A.  Pendekatan Bedah

Kraniotomi mencakup pembukaan tengkorak melalui pembedahan

untuk meningkatkan akses pada struktur intrakranial. Kraniotomi ini

dilakukan untuk menghilangkan tumor, mengurangi TIK, mengevakuasi

bekuan darah dan mengontrol hemoragi. Flap tulang dibuat ke dalam

tengkorak dan dipasang kembali setelah pembedahan, ditempatkan dengan

jahitan periastial atau kawat.

Secara umum ada dua pendekatan melalui tengkorak yaitu:

1)   Di atas tentorium (kraniotomi supratentorial) ke dalam kompartemen

supratentorial

2)   Di bawah tentorium ke dalam kompartemen infratentorial (fossa

posterior). Pendekatan transfenoidal digunakan untuk membuat akses ke

kelenjar hipofisis.

Struktur intrakranial dapat menjadi pendekatan melalui lubang burr

yaitu lubang sirkular yang dibuat tengkorak baik melalui drill tangan atau

kraniotom automatic (yang mempunyai sistem kendali sendiri untuk

menghentikan drill ketika tulang ditembus).








Lubang     burr     dapat    digunakan     untuk     menentukan     adanya

pembengkakan serebral dan cedera serta ukuran dan posisi ventrikel, dan

suatu cara evakuasi hematoma intrakranial atau abses dan untuk membuat

flap tulang di dalam tengkorak dan memungkinkan akses pada ventrikel

untuk tujuan dekompensasi, ventrikulografi, shunting.

Prosedur cranial lain meliputi kraniektomi dan kranioplasti

(perbaikan defek cranial dengan penggunaan plat logam atau plastik).


B.  Evaluasi Diagnostik

Prosedur diagnostik praoperasi dapat meliputi:

1)   Tomografi komputer (pemindahan CT)

Untuk menunjukkan lesi dan memperlihatkan derajat edema otak.

Sekitarnya, ukuran ventrikel dan perubahan posisinya.

2)   Pencitraan resonans magnetik (MRI)

Memberikan informasi serupa dengan pemindahan CT, dengan tambahan

keuntungan pemeriksaan lesi di potongan lain.

3)   Angiografi serebral

Digunakan untuk meneliti suplai darah tumor atau memberi informasi

mengenai lesi vaskuler

4)   Pemeriksaan aliran Doppler transkranial

Mengevolusi aliran darah pembuluh darah intrakranial

C.  Penatalaksanaan 

a.   Penatalaksanaan praoperasi

1








Biasanya pasien diterapi dengan medikasi antikonvulsan

(fenitoin) sebelum pembedahan untuk mengurangi resiko kejang pasca

operasi. Sebelum pembedahan, steroid (deksametason) dapat diberikan

untuk mengurangi edema serebral. Cairan dapat dibatasi. Agens

hiperosmotik (manitol) dan diuretic (furosemid) dapat diberikan secara

intravena segera sebelum dan kadang selama pembedahan bila pasien

cenderung menahan air, yang terjadi pada individu yang mengalami

disfungsi intrakranial. Kateter urinarius menetap dipasang sebelum

pasien dibawa ke ruang operasi untuk mengalirkan kandung kemih

selama pemberian diuretic dan untuk memungkinkan haluaran urinarius

dipantau. Pasien dapat diberikan antibiotik bila serebral sempat

terkontaminsasi atau diazepam pada praoperasi untuk menghilangkan

ansietas.

Kulit kepala dicukur segera sebelum pembedahan (biasanya di

ruang operasi) sehingga adanya abrasi superficial tidak sempat

mengalami infeksi.

b.   Penatalaksanaan Pascaoperasi

Jalur arteri dan jalur tekanan vena sentral (CVP) dapat dipasang

untuk memantau tekanan darah dan mengukur CVP. Pasien mungkin

atau tidak diintubasi dan mendapat terapi oksigen tambahan.

-     Untuk mengurangi edema serebral





2








Terapi medikasi meliputi pemberian monitol, yang meningkatkan

osmolalitas serum dan menarik air bebas dari area otak. Dexametason

dapat diberikan melalui iv setiap 6 jam selama 24 – 72 jam dan

dosisnya dikurangi secara bertahap.

-     Meredakan nyeri dan mencegah kejang

Terapi medikasi meliputi pemberian asetaminofen yang diberikan

selama suhu di atas 37,5 % dan untuk nyeri. Setelah kraniotomi

biasanya pasien mengalami sakit kepala akibat saraf kulit kepala

yang diregangnya dan iritasi selama pembedahan. Kodein diberikan

lewat parenteral untuk menghilangkan sakit kepala, medikasi

antikonvulsan (fenitoin, diazepam) diresepkan untuk pasien yang

telah menjalani kraniotomi supratentorial karena adanya resiko

epilepsy. Kadar serum dipantau untuk mempertahankan medikasi dan

rentang terapeutik.

-     Memantau TIK

Untuk memantau TIK, kateter ventrikel atau beberapa tipe drainase

sering dipasang untuk pasien yang menjalani pembedahan untuk

tumor fossa posterior. TIK dapat dikaji dengan menyusun sistem

dengan sambungan stopkok ke selang bertekanan dan transduser.

Perawatan diperlukan untuk menjamin bahwa sistem tersebut

kencang pada semua sambungan dan stopkok ada pada posisi yang

tepat.


3








Pisau ventrikel kadang dilakukan sebelum prosedur bedah tertentu

untuk mengontrol hipertensi intrakranial terutama pada pasien

dengan tumor fossa posterior.


D.  Proses Keperawatan pada Klien yang Menjalani Bedah Intrakranial

1.   Pengkajian

a.   Pengkajian praoperasi

Pengkajian praoperasi memerlukan kewaspadaan tentang status

praoperasi pasien sehingga dapat membuat perbandingan antara tanda

dan gejala praoperasi dan pascaoperasi pasien. Pengkajian ini

meliputi:

-     Tingkat kesadaran dan responsitivitas terhadap rangsang

-     Mengidentifikasi adanya deficit neurologik seperti paralysis,

disfungsi visual, perubahan pada kepribadian atau bicara,

gangguan kandung kemih, dan usus.

-     Fungsi motorik tangan yang diuji dengan kekuatan genggaman

tangan

-     Observasi terhadap gerakan kaki yang dilakukan bila pasien tidak

diambulasi.

Pemahaman pasien dan keluarga tentang rencana prosedur bedah dan

kemungkinan gejala sisanya dikaji bersamaan dengan reaksi mereka

terhadap rencana pembedahan. Selain itu ketersediaan sistem

pendukung untuk pasien dan keluarga juga dikaji.

4








b.   Pengkajian pascaoperasi

Frekuensi pemantauan pascaoperasi didasarkan pada status klinis

pasien. Pengkajian ini meliputi:

-     Fungsi pernafasan

Mengkaji fungsi pernafasan adalah esensial karena hipoksia

ringan dapat meningkatkan iskemia serebral.

-     Frekuensi dan pola pernafasan

-     Nilai gas darah arteri

-     Fluktuasi tanda vital pasien, karena ini mengindikasikan

peningkatan TIK.

-     Pengukuran suhu rectal pasien untuk mengkaji adanya

hipertermia sekunder akibat kerusakan hipotalamus.

-     Pemeriksaan neurologik untuk mendeteksi peningkatan TIK yang

diakibatkan oleh edema serebral atau perdarahan. Pengkajian

status neurologik berfokus pada tingkah kesadaran pasien, tanda-

tanda mata, respon motorik dan tanda vital. Pasien diobservasi

untuk tanda-tanda yang tak nyata dari deficit neurologik seperti

penurunan respons terhadap rangsang, masalah bicara, kesulitan

dalam menelan, kelemahan/paralysis, ekstremitas, perubahan

visual (diplopia, penglihatan kabur), perestesia, kejang.,

Balutan bedah pasien diinspeksi untuk adanya perdarahan

dan drainase CSS


5








2.   Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan data pengkajian diagnosa keperawatannya meliputi:

     Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema

serebral

     Potensial terhadap ketidakefektifan termoregulasi yang berhubungan

dengan kerusakan hipotalamus, dehidrasi dan infeksi.

     Potensial terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan

hipoventilasi, aspirasi dan imobilisasi.

     Perubahan sensori-persepsi (visual, auditorius, bicara) yang

berhubungan dengan edema periorbital, balutan kepala, selang

endotrakeal dan efek TIK.

     Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan

atau ketidakmampuan fisik.

Diagnosa keperawatan lain dapat meliputi:

     Kerusakan komunikasi (afasi) berhubungan dengan kerusakan

jaringan otak.

     Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan

dengan immobilitas, tekanan, inkontinensia.

3.   Intervensi Keperawatan

a.   Intervensi keperawatan praoperasi

Pada persiapan pembedahan, status fisik dan emosional pasien ada

pada tingkat optimal untuk mengurangi komplikasi pascaoperasi.


6








Status fisik pasien dikaji untuk deficit neurologik dan dampak

potensial setelah pembedahan. Intervensi keperawatan pasien

praoperasi meliputi:

-     Bila lengan pasien atau kakinya paralysis, roll trokhanter

dipasang pada ekstremitas dan kaki dipersisikan terhadap papan

kaki.

-     Pasien yang mampu ambulasi didorong untuk melakukannya.

-     Bila pasien afasia, tuliskan material atau gambar dan kartu kata-

kata yang menunjukkan bedpan, gelas air, selimut, dan lain-lain.

-     Persiapan emosional pasien meliputi pemberian informasi tentang

apa yang akan terjadi pada pasca operasi.

-     Perubahan status kognitif dapat membuat pasien menyadari

rencana pembedahan.

b.   Intervensi keperawatan pasca operasi

1)   Mencapai homeostatis neurologik

Perhatian terhadap status pernafasan adalah penting untuk hasil

klinik pasien.

-     Pipa endotrakeal ditempatkan di sebelah kiri sampai pasien

memperlihatkan tanda bangun dan mempunyai ventilasi

spontan yang adekuat.

-     Evaluasi keadaan klinis dan analisa gas darah arteri.





7








2)   Edema serebral

-     Peningkatan tekanan intrakranial

-     Drainase intraventrikel dipantau dengan cermat dengan

menggunakan asepsis ketat bila ada bagian dari sistem

terpegang

-     Tanda-tanda vital dan neurologis diperiksa (tingkat kesadaran

dan responnya, respons pupil dan motorik) setiap 15 menit

sampai 1 jam)

-     Rotasi kepala ekstrem dihindari sat ada peningkatan TIK

-     Setelah bedah supratentorial pasien ditempatkan dengan

posisi telungkup atau miring dengan satu bantal di bawah

kepala.

-     Kepala tempat tidur ditinggikan 20º – 30 º.

-     Setelah bedah fossa posterior pasien dipertahankan berbaring

telentang lurus pada satu sisi (telungkup) dengan kepala

menggunakan bantal yang kecil.

-     Pasien diubah ke posisi kiri, tetapi kepala tidak fleksi ke arah

dada.

-     Posisi pasien diubah setiap 2 jam dan kulit sering dirawat.

-     Mengubah posisi dengan menggunakan kain seprei di kepala

sampai bagian tengah paha.





8








3)   Mengatur suhu

Intervensi keperawatan terdiri dari pemantauan suhu dan

melakukan tindakan untuk menurunkan suhu tubuh; melepaskan

selimut, menggunakan kantong es di aksil dan daerah lipat paha,

menggunakan selimut hipotermia dan pemberian obat-obat yang

dipertimbangkan untuk menurunkan demam.

4)   Meningkatkan pertukaran gas

-     Pasien diobservasi terhadap tanda-tanda infeksi pernafasan:

peningkatan suhu, peningkatan frekuensi nadi dan perubahan

respiratori.

-     Paru-paru diaskultasi terhadap adanya penurunan bunyi nafas

dan bunyi tambahan lain.

-     Ubah posisi pasien setiap 2 jam untuk mobilisasi sekret dan

mencegah statisnya sekret.

-     Setelah pasien sadar lakukan pengukuran tambahan:

kemampuan menguap, nafas panjang dan nafas dalam.

5)   Koping terhadap deprivasi sensori

-     Tempatkan pasien dengan meninggikan posisi kepala dan

memberikan kompres dingin di atas mata, membantu

menurunkan edema.

-     Tenaga pelayanan kesehatan harus memberi tahu keberadaan

mereka bila memasuki ruangan untuk menghindari kejutan


9








pada pasien yang penglihatannya berkurang karena edema

periorbital.

6)   Mencapai penerimaan diri

-     Pasien didorong untuk mengungkapkan perasaan dan frustasi

tentang adanya perubahan pada penampilan

-     Dorong untuk penggunaan pakaian pribadi dan penutupan

kepala kerudung sampai terjadi pertumbuhan rambut

-     Sistem pendukung sosial dan keluarga.

7)   Pendidikan pasien dan pertimbangkan perawatan di rumah

-     Kekuatan dan keterbatasan pasien dijelaskan pada keluarga

dalam meningkatkan pemulihan pasien.

-     Jaga kulit kepala tetap kering sampai seluruh jahitan diangkat.

8)   Infeksi

-     Tempat insisi dipantau untuk adanya kemerahan, nyeri tekan,

benjolan, separasi atau bau menyengat

-     Tekan balutan dengan bantalan steril sehingga kontaminasi

dan infeksi terhindar

9)   Kejang

-     Berikan medikasi antikonvulsan yang diresepkan sebelumnya.

4.   Perencanaan dan Implementasi

Sasaran utama pasien ini mencakup tercapainya keseimbangan

neurologis. Untuk meningkatkan perfusi jaringan serebral, tercapainya


10








regulasi suhu, kemampuan koping dengan penurunan sensori, ventilasi

dan pertukaran gas normal, adaptasi terhadap pembuatan citra tubuh dan

tidak terjadi komplikasi.

5.   Evaluasi

Hasil yang diharapkan:

1.   Tercapainya homeostatis neurologis/meningkatnya perfusi jaringan

serebral.

a.   Membuka mata sesuai perintah; menggunakan kata-kata yang

dikenal dengan kemajuan untuk berbicara normal.

b.   Mematuhi perintah dengan respons motorik yang tepat

2.   Tercapainya pengaturan suhu dan suhu tubuh dalam keadaan normal

3.   Mengkoping penurunan sensori

4.   Mempunyai pertukaran gas yang normal

a.   Gas darah arteri normal

b.   Bunyi nafas bersih tanpa bunyi-bunyi tambahan

c.   Melakukan nafas dalam dan mengubah posisi secara langsung

5.   Menunjukkan peningkatan konsep diri

a.   Memperhatikan hal berdandan

b.   Mengunjungi dan berinteraksi dengan orang lain

6.   Tidak ada komplikasi 

a.   TIK normal





11








b.   Perdarahan pada tempat pembedahan minimal dan insisi bedah

sembuh tanpa bukti infeksi

c.   Suhu tubuh normal

d.   Kadar keseimbangan cairan dan elektrolit dalam batas-batas yang

diinginkan

e.   Tidak menunjukkan kejang


E.  Bedah Transfenoidal

Tumor yang terletak di dalam sela tursika dan adenoma hipofisis

dapat diangkat dengan pendekatan transfenoidal. Insisi dibuat di bawah bibir

atas dan jalan masuk dibuat ke dalam rongga nasal, sinus senoidal dan sela

tursika. Teknik bedah mikro memberikan perbaikan pencahayaan,

pembesaran, dan visualisasi sehingga struktur vital di dekatnya dapat

dihindari.

Pendekatan transfenoidal memberikan akses langsung pada sel

tursika dengan resiko trauma dan hemoragi minimal. Tindakan ini

menghindari banyak resiko kraniotomi, dan ketidaknyamanan pascaoperasi

serupa dengan prosedur bedah transnasal lain. Juga dapat digunakan untuk

ablasi hipofisis pada pasien dengan payudara di seminata atau kanker prostat.












12








II.   PENDEKATAN NEUROLOGIK DAN BEDAH NEURO UNTUK

PENATALAKSANAAN NYERI

A.  Prosedur Stimulasi

Stimulasi listrik atau neuromodulasi adalah metode supresi nyeri

dengan memberikan denyutan listrik bertegangan rendah terkontrol pada

bagian sistem saraf.

1)   Stimulasi saraf listrik transkutaneus (TENS)

TENS adalah pasase arus listrik kecil melalui kulit untuk tujuan

mengontrol nyeri lokal. Elektroda ditempatkan di atas sisi nyeri,

sepanjang proses saraf perifer. Pasien mengoperasikan kontrol amplitudo

sampai stimulasi yang terdeteksi oleh sensasi vibrasi, dengungan atau

ketukan, terasa di dalam jaringan yang lebih dalam. Amplitudo

ditingkatkan secara perlahan sampai sensasi dirasakan pada sisi atau asal

nyeri atau sepanjang jaras radiasi.

2)   Stimulasi kolumna dorsal (DCS)

DCS adalah teknik yang digunakan untuk meredakan nyeri

kronik dan hebat di mana alat yang diimplantasikan melalui pembedahan

memungkinkan pasien memberikan stimulasi listrik denyutan pada aspek

dorsal medulla spinalis untuk memblok impuls nyeri. Laminektomi

dilakukan di atas asupan nyeri derajat tinggi, dan elektroda ditempatkan

pada ruang epidural di atas kolumna posterior medulla spinalis. Kantung

subkutan disusun di atas area klavikula atau beberapa tempat lain untuk


13








penempatan penerima yang keduanya disambungkan dengan saluran

subkutan.

3)   Neurostimulasi epidural perkutan

Merupakan metode stimulasi neuro di mana elektroda dimasukkan

melalui kulit ke dalam ruang epidural spinal. Tindakan ini tampak efektif

dalam mengatasi arakhnoiditis dan neuroma pasca amputasi.

4)   Stimulasi otak dalam

Dilakukan untuk masalah nyeri khusus ketika pasien tidak berespon pada

teknik umum pengendalian nyeri. Elektroda dimasukkan melalui lubang

burr di tengkorak dan dimasukkan ke dalam tempat terpilih di otak,

bergantung pada lokasi atau tipe nyeri.


B.  Opioid Instrapinal

Resepton opioid tidak hanya ada di otak tetapi juga di substansia

gelantinosa korda spinalis. Reseptor ini dapat berkombinasi dengan opioid

yang diberikan secara lokal (morfin) diinjeksikan secara epidural atau

intratekal untuk menghasilkan peredaan nyeri jangka panjang dengan sedikit

atau tanpa menumpulkan tingkat responsivitas pasien dan tidak

menghilangkan fungsi sensori, motorik atau sfingter., teknik yang digunakan

kebanyakan meliputi penempatan kateter dalam ruang epidural atau

subarakhnoid dengan jarum spinal dan memasukkan kateter sedekat mungkin

ke segmen spinal di mana nyeri dirasakan.




14








C.  Prosedur Ablatif dan Destruktif 

Serat-serta penimbul nyeri dapat dihentikan pada titik manapun dari

asalnya ke kortek serebral.

Prosedur ablative atau destruktif terdiri atas:

1)   Kordotomi

Kordotomi adalah pembagian traktus korda spinalis tertentu

a)   Kordotomi perkutan, menggunakan arus frekuensi radio untuk

menghasilkan lesi pada permukaan anterolateral korda spinalis. Pada

pasien dengan anestesi lokal jarum dimasukkan ke dalam leher di

bawah dan di belakang prosesus mastoideus.

b)   Kordotomi terbuka. Mencakup pembedahan terhadap kolumna

anterolateral serat-serta nyeri spinal di atas region torakal atau

servika. Prosedur ini menghentikan atau merusak konduksi nyeri dan

sensasi suhu.

2)   Rizotomi

Rizotomi adalah pembedahan pada akar spinal yang digunakan untuk

mengontrol nyeri dada berat karena kanker paru dan untuk mengurangi

nyeri kepala dan malignansi leher.

a)   Rizotomi perkutan, arus frekuensi radio digunakan untuk secara

selektif menggumpalkan serat-serta nyeri sementara serat-serta yang

mengendalikan sentuhan dan propriosepsi dipertahankan.





15








b)   Rizotomi kimiawi, alkohol, fenol atau campuran agens diinjeksikan

ke dalam ruang subarakhnoid.


D.  Pendekatan Bedah Psiko

Tujuan prosedur bedah psiko adalah untuk mengubah respons pasien

terhadap nyeri. Talainotomi adalah perusakan terhadap kelompok sel khusus

di dalam thalamus. Lubang burr di buat di tengkorak, elektroda ditempatkan

dalam area target dengan teknik stereotaksik dan arus frekuensi radio,

kemudian diarahkan melalui elektroda untuk menciptakan lesi.


III. SAKIT KEPALA

A.  Klasifikasi

Klasifikasi sakit kepala paling baru dikeluarkan oleh Headache

Classification Committee of the Internasional Headache Society sebagai

berikut:

1)   Migren (dengan dan tanpa aura)

2)   Sakit kepala tegang

3)   Sakit kepala klaster dan hemikronia paraksismal

4)   Berbagai sakit kepala yang berkaitan dengan lesi struktural

5)   Sakit kepala dihubungkan dengan trauma kepala

6)   Sakit kepala dihubungkan dengan gangguan vascular

7)   Sakit kepala dihubungkan dengan gangguan intrakranial non vaskular





16








8)   Sakit kepala dihubungkan dengan penggunaan zat kimia atau gejala putus

asa.

9)   Sakit kepala dihubungkan dengan infeksi non-sefalik

10) Sakit kepala yang dihubungkan dengan gangguan metabolik

11) Sakit kepala atau nyeri wajah yang dihubungkan dengan gangguan

kepala, leher atau struktur sekitar kepala

12) Neuralgia kranial


B.  Pengkajian

Data yang diperoleh untuk riwayat kesehatan harus menunjukkan

kata-kata pasien sendiri tentang sakit kepala seperti digambarkan pada

respons terhadap pertanyaan ini:

-     Berapa usia Anda sakit kepala ini mulai? Pada situasi seperti apa

mulainya.

-     Di mana lokasinya? Apakah bilateral atau unilateral? Apakah menyebar?

-     Berapa kali sakit kepala terjadi selama waktu tertentu?

-     Apakah ada faktor yang mendukung

-     Apa yang membuat sakit kepala bertambah buruk (batuk, tegang)

-     Kapan waktu serangan

-     Apa yang biasa  digunakan untuk mengurangi sakit kepala (aspirin,

makanan, istirahat)

-     Apakah ada mual, muntah, keletihan atau kesemutan pada ekstremitas

menyertai sakit kepala.

17








-     Apakah Anda mempunyai alergi

-     Apakah keluarga mempunyai sejarah sakit kepala


C.  Migren

Migren adalah gejala kompleks yang mempunyai karakteristik pada

waktu tertentu dan serangan sakit kepala berat yang berulang-ulang.

Penyebab migren tidak diketahui jelas. Tetapi ini dapat disebabkan oleh

gangguan vaskuler primer yang biasanya banyak terjadi pada wanita dan

mempunyai kecenderungan kuat dalam keluarga.

D.  Sakit Kepala Vaskuler Lain

Sakit kepala vaskuler lain meliputi:

1)   Cluster headache

Merupakan bentuk sakit kepala vaskuler berat. Hal ini sering terjadi pada

pria dan lebih mudah terjadi pada keadaan penderita sangat lelah dan

letih. Serangan datang dalam bentuk menumpuk dan berkelompok dengan

nyeri yang menyiksa pada lokasi mata dan lingkaran mata dan menyebar

ke wajah dan daerah temporal. Nyeri diikuti mata berair dan sumbatan

hidung,. Serangan berakhir dari 15 menit sampai 2 jam. Sedangkan pada

wanita biasanya datangnya serangan berkaitan dengan menstruasi.

2)   Arteritis kranial

Radang arteri kranial merupakan karakteristik sakit kepala berat yang

terletak di sekitar arteri temporal. Radang mungkin menyebar di bagian

arteri kranial, merupakan salah satu penyakit pembuluh darah.

18








Arthritis kranial adalah salah satu penyebab sakit kepala pada populasi

lansia yang jangkauan insidennya besar pada usia di atas 70 tahun.

Arteritis kranial sering dimulai dengan adanya kelelahan, lemah,

kehilangan berat badan dan demam.

Arteritis kranial merupakan gambaran pertahanan (imun) vaskulitis di

mana imun kompleks ditumpuk pada dinding-dinding pembuluh darah

yang terpengaruh yang menghasilkan cedera pembuluh darah dan radang.


E.  Sakit Kepala Tegang (Sakit Kepala Kontraksi Otot)

Kontraksi otot atau tension headache menimbulkan nyeri karena

kontraksi terus-menerus otot kulit kepala, dahi dan leher disertai

vasokontriksi ekstrakranial, karakteristik sakit kepala mungkin menetap,

perasaan tetap pada tekanan yang biasanya dimulai pada dahi, pelipis atau

belakang leher. Bentuk akut dikaitkan dengan keadaan stress, kegelisahan

yang biasanya berlangsung satu atau dua hari. Tension headache bentuk

kronik lebih sering dijumpai pada wanita dan biasanya bilateral.



















19

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
© Copyright 2012. Makalah Cyber . All rights reserved | Makalah Cyber.blogspot.com is proudly powered by Blogger.com | Template by Makalah Cyber - Zoenk